
"All-in" (Quan Cang Suo Ha) adalah istilah yang menggambarkan tindakan menginvestasikan seluruh saldo akun Anda pada satu aset atau posisi trading dalam satu arah. Contohnya, melakukan pembelian besar sekaligus di spot trading atau menggunakan seluruh margin yang tersedia—seringkali dengan leverage tinggi—dalam perpetual contract.
Leverage berarti meminjam dana untuk memperbesar ukuran transaksi, sehingga pergerakan harga kecil bisa menghasilkan keuntungan atau kerugian besar. "Forced liquidation" adalah mekanisme bursa untuk mencegah saldo akun negatif—ketika margin Anda tidak cukup, posisi Anda otomatis ditutup. Dengan strategi all-in, satu kesalahan saja bisa mengancam seluruh modal Anda.
Strategi all-in lazim di kripto karena volatilitas tinggi, siklus berita yang cepat, dan efek emosi dari media sosial. Banyak trader mengalami FOMO (Fear of Missing Out) dan memilih all-in demi mengejar keuntungan besar dalam waktu singkat. Berdasarkan data historis CoinMarketCap 2024, pergerakan harian 5% atau lebih kerap terjadi pada aset kripto utama, sehingga menumbuhkan mentalitas "all or nothing".
Selain itu, performa menonjol dari key opinion leader (KOL) sering menciptakan survivorship bias. Pendatang baru kerap salah paham, mengira hasil tinggi berasal dari posisi besar atau leverage tinggi, tanpa memperhatikan faktor penting seperti manajemen risiko dan pelestarian modal.
Risiko utama adalah eksposur terkonsentrasi. Menaruh semua dana pada satu posisi berarti satu kesalahan bisa menyebabkan kerugian besar atau bahkan forced liquidation.
Dalam trading derivatif, leverage tinggi membuat "liquidation price" (harga di mana posisi Anda terpaksa ditutup oleh sistem) semakin dekat ke harga masuk. Misalnya, membuka posisi long 5x dengan margin 1.000 USDT memberi eksposur sekitar 5.000 USDT. Jika harga turun 20%, kerugian hampir menghabiskan margin Anda, sehingga risiko likuidasi meningkat tajam.
Risiko lain adalah likuiditas dan slippage. Transaksi besar bisa menggerakkan pasar melawan Anda, sehingga eksekusi terjadi di harga yang lebih buruk dari perkiraan. Dari sisi psikologis, fluktuasi besar nilai akun dapat mengganggu penilaian, membuat trader mudah menambah posisi atau panic selling pada saat yang tidak tepat.
Pada spot trading, all-in berarti membeli satu koin dengan seluruh saldo. Anda tidak bisa terkena likuidasi, namun penurunan harga yang dalam dapat membuat nilai kekayaan bersih Anda tertekan lama—dan Anda kehilangan peluang lain.
Pada derivatif (seperti perpetual contract), all-in melibatkan margin dan leverage. Leverage tinggi menuntut margin lebih ketat dan harga likuidasi lebih dekat ke harga masuk. Jika pasar bergerak cepat melawan Anda, sistem akan melikuidasi posisi, mengunci kerugian dan bisa menimbulkan biaya tambahan atau funding fee.
Contoh sederhana: Jika Anda bullish dan all-in spot, penurunan 30% berarti kerugian 30%. Namun dengan all-in leverage 10x, Anda dapat terkena likuidasi hanya dengan pergerakan negatif yang jauh lebih kecil.
“All-in” adalah istilah informal untuk mempertaruhkan seluruh saldo pada satu transaksi. “Cross margin mode” adalah pengaturan margin di bursa (juga disebut “cross position mode”), di mana saldo akun Anda digunakan bersama sebagai margin untuk beberapa posisi guna menyerap risiko.
Pada kontrak Gate, cross margin mode memungkinkan beberapa posisi berbagi margin, sehingga lebih tahan terhadap volatilitas jangka pendek—namun ini tidak berarti Anda all-in pada satu transaksi. Sebaliknya, “isolated margin mode” memisahkan margin tiap posisi; masalah di satu posisi tidak memengaruhi yang lain. Singkatnya, cross/isolated margin adalah pengaturan teknis; all-in adalah keputusan alokasi modal—keduanya tidak sama.
Langkah 1: Pilih isolated margin mode. Mode isolated membatasi risiko pada masing-masing posisi, sehingga satu kesalahan tidak menyeret seluruh akun Anda.
Langkah 2: Atur stop-loss dan batas posisi. Gunakan panel order untuk menentukan harga stop-loss dan ukuran posisi maksimum. Stop-loss adalah aturan otomatis yang menutup posisi di harga tertentu untuk membatasi kerugian.
Langkah 3: Masuk bertahap dan cek estimasi harga likuidasi. Bangun posisi secara bertahap (misal, tiga bagian), dan cek estimasi harga likuidasi serta margin maintenance sebelum masuk—pastikan fluktuasi harga normal tidak mudah memicu forced liquidation.
Langkah 4: Gunakan risk limit dan sub-akun. Gate memungkinkan Anda mengatur risk limit untuk membatasi ukuran posisi maksimum. Membuka sub-akun untuk strategi berbeda membantu memisahkan eksperimen agresif dari dana utama.
Langkah 5: Gunakan limit order untuk mengurangi slippage. Limit order dieksekusi di harga yang Anda tentukan dan membantu menghindari eksekusi tidak menguntungkan saat pasar bergerak cepat; dikombinasikan dengan stop-loss, ini memberikan perlindungan tambahan.
Pertimbangkan aturan alokasi modal dan ukuran posisi—misalnya, membagi dana antara “core portfolio” untuk investasi jangka panjang dan “satellite strategy” untuk trading taktis.
Dollar-cost averaging (DCA) adalah membeli secara berkala dengan jumlah tetap, sehingga tekanan timing berkurang. Grid trading mengotomatisasi pembelian di harga rendah dan penjualan di harga tinggi dalam rentang tertentu, cocok untuk pasar sideways dan lebih tahan dari keputusan emosional seperti all-in.
Untuk kontrol risiko, banyak trader mengikuti aturan “1%–2% per transaksi”—jangan pernah mempertaruhkan lebih dari porsi ini dari saldo akun pada satu transaksi. Misal, dengan akun 1.000 USDT, batasi risiko tiap transaksi di 10–20 USDT dengan menyesuaikan ukuran posisi dan jarak stop-loss—bukan dengan memulai dari “berapa besar saya bisa bertaruh”.
Beberapa trader memang meraih keuntungan besar dengan menangkap tren kuat melalui posisi besar atau leverage tinggi—namun kisah seperti ini umumnya terjadi di bull market dan sarat survivorship bias: hanya pemenang yang membagikan kisah, sementara yang gagal tidak terdengar. Mengaitkan keberhasilan langka hanya pada pengambilan risiko besar mengabaikan faktor seperti identifikasi tren, timing, likuiditas, manajemen risiko, dan kontrol drawdown jangka panjang—sehingga menyesatkan pendatang baru soal kemungkinan meniru strategi tersebut.
Pendekatan lebih bijak adalah menentukan drawdown maksimum yang dapat diterima terlebih dahulu, lalu memilih ukuran posisi dan strategi yang sesuai—bukan membenarkan risiko setelah melihat hasil.
Dari sisi risk-reward, all-in memusatkan ketidakpastian pada satu peristiwa: keuntungan jangka pendek bisa berlipat, namun dalam jangka panjang justru meningkatkan risiko bangkrut dan tekanan psikologis. Ingatlah, “all-in” hanyalah slogan media sosial—bukan metode manajemen modal yang sehat. Di Gate, gunakan isolated margin mode, stop-loss, masuk bertahap, risk limit, DCA, atau grid trading sebagai alternatif; semua ini memungkinkan Anda berpartisipasi dalam volatilitas pasar dengan disiplin trading yang berkelanjutan. Untuk keamanan modal, selalu tetapkan batas kerugian dan risiko maksimum agar Anda tidak mengakhiri karier trading akibat satu kesalahan fatal.
All-in berarti mempertaruhkan seluruh saldo akun pada satu transaksi. Jika pasar bergerak melawan Anda, Anda bisa langsung dilikuidasi dan kehilangan seluruh saldo akun. Ini sering terjadi di kripto karena volatilitas, namun sangat berisiko. Disarankan segera membatasi kerugian dan mengevaluasi ulang strategi manajemen risiko; gunakan stop-loss order di Gate untuk mencegah kejadian serupa.
All-in di derivatif jauh lebih berisiko daripada di spot. Dalam spot trading, risiko terburuk adalah nilai aset turun—Anda masih memilikinya. Dalam derivatif dengan leverage, mekanisme likuidasi bisa menghapus modal Anda seketika atau bahkan membuat Anda berutang. Saat trading contract di Gate, kendalikan leverage secara ketat—bahkan jika all-in, gunakan leverage rendah.
Transaksi all-in biasanya didorong oleh keserakahan, FOMO, atau mentalitas berjudi. Survivorship bias nyata—kisah sukses all-in yang langka dibesar-besarkan, sementara kegagalan banyak diabaikan. Trading rasional harus didasarkan pada analisis risk-reward—bukan emosi.
Perbedaannya terletak pada ukuran posisi dan rencana cadangan. Investasi bijak membatasi tiap posisi pada 5–20% dari total dana, menggunakan stop-loss, dan menyisakan dana cadangan. All-in tidak memakai stop-loss, tanpa cadangan, dan mempertaruhkan semuanya pada satu transaksi. Sebelum membuka posisi di Gate, tanyakan pada diri Anda: Apakah saya siap menanggung kerugian 50% pada transaksi ini? Lanjutkan hanya jika jawabannya ya.
Jika akun Anda menjadi nol setelah rugi all-in, modal Anda memang hilang—namun pemulihan tetap mungkin dengan disiplin. Mulailah lagi dengan nominal kecil; uji strategi secara ketat; utamakan manajemen risiko dan ketahanan psikologis. Banyak trader sukses pernah mengalami likuidasi—kuncinya adalah belajar dari kesalahan, bukan mengulanginya.


