Ketika suku bunga mulai menunjukkan tren penurunan, banyak orang menyadari bahwa ada “pilihan lain” di luar saham biasa, yaitu saham preferen sebagai instrumen investasi penting yang sering diabaikan.
Lalu, apa bedanya? Mana yang cocok untuk Anda? Mari kita bahas secara jelas.
Apa itu saham biasa? Mengapa berisiko, tetapi tetap diminati untuk investasi?
Saham biasa (Common Stock) adalah hal yang sering dibicarakan ketika menyebut “saham”. Sebenarnya, ini mewakili kepemilikan atas perusahaan, mirip dengan Anda bertaruh bersama pendiri perusahaan, berbagi kemenangan dan kerugian bersamanya.
###Apa yang akan Anda dapatkan?
Imbal hasil tak terbatas – Ini adalah daya tarik utama saham biasa. Jika perusahaan berkembang, harga saham bisa naik 10 kali lipat, 100 kali lipat, atau lebih, disertai dividen yang meningkat sesuai kinerja perusahaan. Inilah kekuatan kapitalisme yang nyata.
Kekuasaan kontrol – Pemegang saham biasa memiliki hak suara di rapat umum pemegang saham 1 saham = 1 suara. Anda dapat memilih dewan direksi dan menyetujui keputusan penting, menjadi “pemilik sejati”, bukan sekadar investor.
###Tapi risiko…
Di sinilah kelemahan saham biasa – pemegang saham biasa berada di posisi paling bawah dalam struktur modal (Capital Structure).
Jika perusahaan bangkrut, seluruh aset akan dijual untuk membayar “kreditur” dan “pemegang saham preferen” terlebih dahulu. Sisanya (jika masih ada), akan jatuh ke pemegang saham biasa. Kesimpulannya? Investasi Anda bisa hilang 100% dalam sekejap.
Apa itu saham preferen? Dan mengapa disebut “preferen”?
Saham preferen (Preferred Stock) adalah sekuritas hybrid – menggabungkan karakteristik obligasi (Bond) dan saham biasa (Stock).
Secara hukum, pemegang saham preferen adalah pemilik perusahaan seperti pemegang saham biasa, tetapi secara praktis, mereka seperti meminjam uang ke perusahaan – menerima arus kas tetap sebagai imbalan atas kehilangan hak kontrol.
###Apa kelebihannya?
Dividen prioritas – Saat perusahaan membayar dividen, pemegang saham preferen menerima terlebih dahulu, dan biasanya memiliki “tingkat tetap” seperti 5% atau 7% per tahun, mirip bunga obligasi.
Pengembalian modal lebih dulu – Jika terjadi kondisi terburuk, dana akan dikembalikan kepada pemegang saham preferen sebelum pemegang saham biasa.
###Jenis-jenis yang perlu diketahui
Cumulative (Akumulasi Dividen): Jika tahun tertentu perusahaan tidak membayar dividen, jumlahnya akan “ditangguhkan” dan dibayar di tahun berikutnya.
Non-cumulative (Tidak akumulatif): Jika tidak dibayar, tidak akan ditangguhkan, hilang begitu saja.
Convertible (Dapat dikonversi): Bisa diubah menjadi saham biasa sesuai rasio tertentu.
Callable (Dapat ditebus): Perusahaan memiliki hak untuk membeli kembali setelah periode tertentu.
Perbandingan yang jelas: Perbedaan utamanya
Kriteria
Saham Biasa
Saham Preferen
Makna
Posisi dalam struktur
Paling bawah
Menengah
Saham preferen lebih aman saat krisis
Hak suara
Ada (1 saham = 1 suara)
Tidak/terbatas
Saham biasa mengendalikan arah, saham preferen sebagai investor pasif
Dividen
Fluktuatif, mengikuti laba
Tetap
Saham biasa berpotensi mengalahkan inflasi
Dividen akumulatif
Tidak akumulatif
Biasanya akumulatif
Saham preferen memberikan perlindungan lebih baik
Potensi kenaikan harga
Sangat tinggi (Unlimited)
Terbatas (Limited)
Saham biasa untuk membangun kekayaan
Sensitif terhadap suku bunga
Sedang
Sangat tinggi
Harga saham preferen berbanding terbalik dengan suku bunga
Likuiditas di Indonesia
Tinggi-tinggi banget
Rendah banget
Saham preferen di Indonesia sulit dijual
Mengapa perusahaan “suka” menerbitkan saham preferen?
Memahami dari sisi perusahaan, Anda akan memahami strateginya:
Mempertahankan kendali manajemen – Pemilik perusahaan ingin dana tanpa mengurangi hak suara mereka. Menerbit saham preferen adalah solusi. Pemegang saham ini tidak punya suara di rapat umum.
Membuat laporan keuangan terlihat lebih baik – Akun “saham preferen” dihitung sebagai ekuitas (Equity), bukan utang. Rasio utang terhadap ekuitas jadi lebih baik.
Fleksibilitas keuangan – Bunga obligasi harus dibayar, jika tidak, dianggap gagal bayar. Dividen saham preferen bisa ditunda sesuai kondisi, tidak dianggap bangkrut.
Siapa yang harus memilih jenis saham mana?
1. Orang yang suka tantangan (Trader/Speculator)
Pilih: Saham biasa atau CFD berbasis saham
Alasan: Potensi keuntungan dari selisih harga tinggi, volatilitas memberi peluang
2. Orang yang membutuhkan pendapatan tetap (Retiree/Income Seeker)
Pilih: ETF saham preferen global atau saham preferen model
3. Investor jangka panjang (Long-term Value Investor)
Pilih: Saham biasa
Alasan: Tumbuh bersama perusahaan, laba bertambah dari waktu ke waktu
4. Investor tingkat tinggi (Sofisticated Investor)
Pilih: Kombinasi (Hybrid Strategy)
Alasan: Memegang saham biasa sebagai utama, gunakan Derivatif/CFD sebagai lindung risiko
Pelajaran dari kejadian nyata di pasar Indonesia
SCB melakukan restrukturisasi, mengubah nasib SCB-P
Bank Indonesia (SCB) melakukan restrukturisasi untuk memisahkan SCBx – kejadian ini mengungkap risiko yang sering diabaikan.
Pemegang SCB-P memiliki opsi konversi, tetapi yang “ketinggalan berita” atau “ragu-ragu” akan menghadapi keputusasaan saat saham SCB asli dihapus dari bursa, menjadi saham luar pasar yang sulit diperdagangkan.
Pelajaran: Saham preferen tidak permanen. Corporate Action besar bisa mereset pemegang saham.
KTB-P: jebakan likuiditas sejati
KTB (saham biasa): Perdagangan harian ratusan juta, mudah dicari
KTB-P (saham preferen): Beberapa hari volume “0” atau hanya puluhan lembar
Kalau Anda membeli KTB-P karena dividen bagus, lalu hari-hari tertentu butuh dana cepat, misalnya “tidak bisa keluar” atau harus jual rugi karena tidak ada pembeli.
Pelajaran: Likuiditas rendah adalah ancaman besar saham preferen Indonesia.
RABBIT-P: Kondisi mengerikan
Saham preferen RABBIT (dulu U City) menunjukkan kompleksitas:
Dividen jelas, tetapi ada syarat konversi 1:1 ke saham biasa
Hak suara “normal” 1 saham = 1 suara, tetapi jika perusahaan membayar dividen penuh, bisa dikurangi jadi 1 suara untuk membatasi kekuasaan
Jenis ini harus dihitung “Conversion Parity” dengan baik, bukan permainan orang yang tidak paham.
Risiko yang harus diwaspadai
Liquidity Risk (Tidak bisa dijual)
Harga bagus tidak selalu berarti bisa dijual. Beberapa saham preferen di Indonesia memiliki volume rendah yang normal.
Call Risk (Ditebus)
Sebagian besar saham preferen memiliki klausul “Callable” – saat suku bunga pasar turun, perusahaan akan membeli kembali dan menerbitkan yang baru dengan bunga lebih rendah. Anda kehilangan peluang.
Interest Rate Risk (Naik suku bunga, harga turun)
Harga saham preferen berbanding terbalik dengan suku bunga. Saat FED menaikkan suku bunga, harga saham preferen turun, dan investor beralih membeli obligasi.
Leverage Risk (Leverage berlebihan)
Trader yang menggunakan leverage: Leverage memperbesar keuntungan, tetapi juga memperbesar kerugian. Selalu gunakan Stop Loss.
Kesimpulan yang jelas
Saham preferen vs saham biasa bukan soal “lebih baik”, tetapi soal “yang sesuai dengan Anda”.
Ingin pertumbuhan + menerima volatilitas → saham biasa
Ingin dividen tetap + keamanan → saham preferen
Tapi harus waspada terhadap likuiditas + suku bunga + Call Risk dari saham preferen Indonesia.
Pelajari secara mendalam, buat rencana matang, dan kekayaan akan menjadi milik Anda.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Saham preferen vs saham biasa: Mana yang harus Anda pilih untuk investasi?
Ketika suku bunga mulai menunjukkan tren penurunan, banyak orang menyadari bahwa ada “pilihan lain” di luar saham biasa, yaitu saham preferen sebagai instrumen investasi penting yang sering diabaikan.
Lalu, apa bedanya? Mana yang cocok untuk Anda? Mari kita bahas secara jelas.
Apa itu saham biasa? Mengapa berisiko, tetapi tetap diminati untuk investasi?
Saham biasa (Common Stock) adalah hal yang sering dibicarakan ketika menyebut “saham”. Sebenarnya, ini mewakili kepemilikan atas perusahaan, mirip dengan Anda bertaruh bersama pendiri perusahaan, berbagi kemenangan dan kerugian bersamanya.
###Apa yang akan Anda dapatkan?
Imbal hasil tak terbatas – Ini adalah daya tarik utama saham biasa. Jika perusahaan berkembang, harga saham bisa naik 10 kali lipat, 100 kali lipat, atau lebih, disertai dividen yang meningkat sesuai kinerja perusahaan. Inilah kekuatan kapitalisme yang nyata.
Kekuasaan kontrol – Pemegang saham biasa memiliki hak suara di rapat umum pemegang saham 1 saham = 1 suara. Anda dapat memilih dewan direksi dan menyetujui keputusan penting, menjadi “pemilik sejati”, bukan sekadar investor.
###Tapi risiko…
Di sinilah kelemahan saham biasa – pemegang saham biasa berada di posisi paling bawah dalam struktur modal (Capital Structure).
Jika perusahaan bangkrut, seluruh aset akan dijual untuk membayar “kreditur” dan “pemegang saham preferen” terlebih dahulu. Sisanya (jika masih ada), akan jatuh ke pemegang saham biasa. Kesimpulannya? Investasi Anda bisa hilang 100% dalam sekejap.
Apa itu saham preferen? Dan mengapa disebut “preferen”?
Saham preferen (Preferred Stock) adalah sekuritas hybrid – menggabungkan karakteristik obligasi (Bond) dan saham biasa (Stock).
Secara hukum, pemegang saham preferen adalah pemilik perusahaan seperti pemegang saham biasa, tetapi secara praktis, mereka seperti meminjam uang ke perusahaan – menerima arus kas tetap sebagai imbalan atas kehilangan hak kontrol.
###Apa kelebihannya?
Dividen prioritas – Saat perusahaan membayar dividen, pemegang saham preferen menerima terlebih dahulu, dan biasanya memiliki “tingkat tetap” seperti 5% atau 7% per tahun, mirip bunga obligasi.
Pengembalian modal lebih dulu – Jika terjadi kondisi terburuk, dana akan dikembalikan kepada pemegang saham preferen sebelum pemegang saham biasa.
###Jenis-jenis yang perlu diketahui
Perbandingan yang jelas: Perbedaan utamanya
Mengapa perusahaan “suka” menerbitkan saham preferen?
Memahami dari sisi perusahaan, Anda akan memahami strateginya:
Mempertahankan kendali manajemen – Pemilik perusahaan ingin dana tanpa mengurangi hak suara mereka. Menerbit saham preferen adalah solusi. Pemegang saham ini tidak punya suara di rapat umum.
Membuat laporan keuangan terlihat lebih baik – Akun “saham preferen” dihitung sebagai ekuitas (Equity), bukan utang. Rasio utang terhadap ekuitas jadi lebih baik.
Fleksibilitas keuangan – Bunga obligasi harus dibayar, jika tidak, dianggap gagal bayar. Dividen saham preferen bisa ditunda sesuai kondisi, tidak dianggap bangkrut.
Siapa yang harus memilih jenis saham mana?
1. Orang yang suka tantangan (Trader/Speculator)
2. Orang yang membutuhkan pendapatan tetap (Retiree/Income Seeker)
3. Investor jangka panjang (Long-term Value Investor)
4. Investor tingkat tinggi (Sofisticated Investor)
Pelajaran dari kejadian nyata di pasar Indonesia
SCB melakukan restrukturisasi, mengubah nasib SCB-P
Bank Indonesia (SCB) melakukan restrukturisasi untuk memisahkan SCBx – kejadian ini mengungkap risiko yang sering diabaikan.
Pemegang SCB-P memiliki opsi konversi, tetapi yang “ketinggalan berita” atau “ragu-ragu” akan menghadapi keputusasaan saat saham SCB asli dihapus dari bursa, menjadi saham luar pasar yang sulit diperdagangkan.
Pelajaran: Saham preferen tidak permanen. Corporate Action besar bisa mereset pemegang saham.
KTB-P: jebakan likuiditas sejati
Kalau Anda membeli KTB-P karena dividen bagus, lalu hari-hari tertentu butuh dana cepat, misalnya “tidak bisa keluar” atau harus jual rugi karena tidak ada pembeli.
Pelajaran: Likuiditas rendah adalah ancaman besar saham preferen Indonesia.
RABBIT-P: Kondisi mengerikan
Saham preferen RABBIT (dulu U City) menunjukkan kompleksitas:
Jenis ini harus dihitung “Conversion Parity” dengan baik, bukan permainan orang yang tidak paham.
Risiko yang harus diwaspadai
Liquidity Risk (Tidak bisa dijual)
Harga bagus tidak selalu berarti bisa dijual. Beberapa saham preferen di Indonesia memiliki volume rendah yang normal.
Call Risk (Ditebus)
Sebagian besar saham preferen memiliki klausul “Callable” – saat suku bunga pasar turun, perusahaan akan membeli kembali dan menerbitkan yang baru dengan bunga lebih rendah. Anda kehilangan peluang.
Interest Rate Risk (Naik suku bunga, harga turun)
Harga saham preferen berbanding terbalik dengan suku bunga. Saat FED menaikkan suku bunga, harga saham preferen turun, dan investor beralih membeli obligasi.
Leverage Risk (Leverage berlebihan)
Trader yang menggunakan leverage: Leverage memperbesar keuntungan, tetapi juga memperbesar kerugian. Selalu gunakan Stop Loss.
Kesimpulan yang jelas
Saham preferen vs saham biasa bukan soal “lebih baik”, tetapi soal “yang sesuai dengan Anda”.
Pelajari secara mendalam, buat rencana matang, dan kekayaan akan menjadi milik Anda.