Non-Mata Uang Non-USD Umum Mengalami Penurunan, Indeks Dolar Menguat Kembali
Minggu lalu, dolar AS mendominasi pasar. Indeks dolar naik sebesar 0.93%, sementara mata uang non-USD terkait secara kolektif melemah—Euro turun 0.89%, Yen Jepang turun paling besar sebesar 1.22%, Dolar Australia turun 1.23%, dan Poundsterling mengalami penurunan yang relatif moderat sebesar 0.56%. Di balik pergerakan ini, terdapat berbagai logika pendorong yang berbeda.
Perjudian Pemotongan Suku Bunga Federal Reserve—Apakah Keputusan Benar-Benar Terbakar?
Perubahan kunci terjadi pada ekspektasi pemotongan suku bunga.
Segera setelah risalah rapat Federal Reserve bulan Oktober dirilis, pasar langsung heboh. Ada perbedaan pendapat yang jelas di internal mengenai keputusan Desember, dengan mayoritas anggota beralih dari sikap “mungkin akan melanjutkan pemotongan” ke “tunggu dulu dan lihat”. Serangan yang lebih langsung datang dari pengumuman Biro Statistik Tenaga Kerja AS—menghapus laporan pekerjaan non-pertanian bulan Oktober, yang membuat pasar menjadi panik. Awalnya, kepercayaan pasar terhadap pemotongan suku bunga Desember sempat turun di bawah 30%.
Selanjutnya, Morgan Stanley dan JPMorgan Chase secara berturut-turut menarik kembali prediksi mereka tentang pemotongan suku bunga Desember. Hal ini membuat banyak trader yang bertaruh pada pemotongan suku bunga menjadi terkejut.
Namun, peluang juga datang dengan cepat. Data non-pertanian bulan September menunjukkan penambahan pekerjaan sebesar 11.9 ribu melebihi ekspektasi, tetapi tingkat pengangguran secara tak terduga naik menjadi 4.4%, sinyal kontradiktif ini justru memberi ruang imajinasi pasar. Pada saat kritis, Ketua Federal Reserve New York, Williams, mengeluarkan pernyataan pada tanggal 21, mengisyaratkan bahwa Federal Reserve masih perlu melakukan pemotongan suku bunga dalam waktu dekat. Pernyataan ini langsung meningkatkan ekspektasi pasar terhadap kemungkinan pemotongan suku bunga di bulan Desember, yang saat ini telah naik kembali ke 71.5%.
Pergerakan EUR/USD tertekan oleh ekspektasi ini. Minggu lalu, pasangan mata uang ini turun 0.89%, menembus garis rata-rata 21 hari, menunjukkan suasana bearish yang kuat. Dukungan jangka pendek berada di level 1.1468 dan 1.1391. Jika rebound mampu menembus garis rata-rata 21 hari, resistansi ke atas mengarah ke garis rata-rata 100 hari di sekitar 1.165.
Data utama minggu ini meliputi PCE bulan Oktober, PPI bulan September, dan revisi GDP kuartal ketiga. Data ini akan langsung mempengaruhi penilaian pasar terhadap arah kebijakan Federal Reserve, dan selanjutnya mempengaruhi performa Euro.
Masalah Depresiasi Yen—Intervensi Pemerintah Benar-Benar Akan Datang?
Dibandingkan dengan pelemahan Euro yang relatif perlahan, situasi Yen Jepang lebih mengkhawatirkan. USD/JPY minggu lalu sempat mencapai 157.89, mencatat rekor tertinggi dalam sepuluh bulan, dengan kenaikan mingguan sebesar 1.22%.
Mengapa Yen bisa jatuh begitu tajam? Ada dua alasan utama: pertama, ekspektasi pasar terhadap stimulus fiskal besar-besaran dari pemerintah Jepang, dan kedua, ini berarti jadwal kenaikan suku bunga Bank of Japan akan terus tertunda.
Pada 21 November, pemerintah Jepang menyetujui paket stimulus ekonomi sebesar 21.3 triliun Yen. Pengeluaran fiskal besar ini seharusnya menekan Yen lebih jauh, tetapi anehnya, Yen malah menguat kembali hari itu. Penyebabnya adalah—Menteri Keuangan Jepang, Suzuki, mulai mengeluarkan pernyataan keras, memperingatkan bahwa mereka tidak akan tinggal diam.
Ini berarti intervensi pemerintah tidak jauh lagi. Berdasarkan analisis pasar dan pergerakan harga opsi, secara umum diperkirakan bahwa otoritas Jepang akan melakukan beberapa kali peringatan lisan sebelum benar-benar melakukan pembelian Yen untuk menstabilkan nilai tukar. Beberapa analisis menyebutkan bahwa intervensi nyata kemungkinan akan terjadi dalam kisaran 1 USD = 158 hingga 162 Yen.
Secara teknikal, indikator RSI USD/JPY sudah memasuki wilayah overbought dan mulai berbalik turun, tetapi kekuatan bullish tetap kuat. Dalam jangka pendek, USD/JPY mungkin akan menguji kembali puncak sebelumnya di 157.89, dengan resistansi ke atas di sekitar 158.87. Jika situasi berbalik ke bawah, garis rata-rata 21 hari di 154.50 akan menjadi support utama.
Minggu ini, perhatian harus difokuskan pada apakah otoritas Jepang akan kembali meningkatkan retorika mereka, sementara data AS juga sangat penting. Setiap peningkatan retorika keras dapat memicu lonjakan turun jangka pendek USD/JPY.
Fokus Pasar Valuta Asing Minggu Depan
Dalam jangka pendek, ketidakpastian ekspektasi pemotongan suku bunga Federal Reserve akan terus mempengaruhi arah EUR/USD. Sementara Yen berada dalam posisi “intervensi pemerintah di ujung tanduk”, setiap pernyataan resmi bisa menjadi titik balik. Investor perlu menyeimbangkan antara data dan pernyataan kebijakan.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Dolar AS Menguat, Mata Uang Euro dan Yen Secara Bersama Mengalami Tekanan — Tinjauan Mingguan Pasar Valuta Asing
Non-Mata Uang Non-USD Umum Mengalami Penurunan, Indeks Dolar Menguat Kembali
Minggu lalu, dolar AS mendominasi pasar. Indeks dolar naik sebesar 0.93%, sementara mata uang non-USD terkait secara kolektif melemah—Euro turun 0.89%, Yen Jepang turun paling besar sebesar 1.22%, Dolar Australia turun 1.23%, dan Poundsterling mengalami penurunan yang relatif moderat sebesar 0.56%. Di balik pergerakan ini, terdapat berbagai logika pendorong yang berbeda.
Perjudian Pemotongan Suku Bunga Federal Reserve—Apakah Keputusan Benar-Benar Terbakar?
Perubahan kunci terjadi pada ekspektasi pemotongan suku bunga.
Segera setelah risalah rapat Federal Reserve bulan Oktober dirilis, pasar langsung heboh. Ada perbedaan pendapat yang jelas di internal mengenai keputusan Desember, dengan mayoritas anggota beralih dari sikap “mungkin akan melanjutkan pemotongan” ke “tunggu dulu dan lihat”. Serangan yang lebih langsung datang dari pengumuman Biro Statistik Tenaga Kerja AS—menghapus laporan pekerjaan non-pertanian bulan Oktober, yang membuat pasar menjadi panik. Awalnya, kepercayaan pasar terhadap pemotongan suku bunga Desember sempat turun di bawah 30%.
Selanjutnya, Morgan Stanley dan JPMorgan Chase secara berturut-turut menarik kembali prediksi mereka tentang pemotongan suku bunga Desember. Hal ini membuat banyak trader yang bertaruh pada pemotongan suku bunga menjadi terkejut.
Namun, peluang juga datang dengan cepat. Data non-pertanian bulan September menunjukkan penambahan pekerjaan sebesar 11.9 ribu melebihi ekspektasi, tetapi tingkat pengangguran secara tak terduga naik menjadi 4.4%, sinyal kontradiktif ini justru memberi ruang imajinasi pasar. Pada saat kritis, Ketua Federal Reserve New York, Williams, mengeluarkan pernyataan pada tanggal 21, mengisyaratkan bahwa Federal Reserve masih perlu melakukan pemotongan suku bunga dalam waktu dekat. Pernyataan ini langsung meningkatkan ekspektasi pasar terhadap kemungkinan pemotongan suku bunga di bulan Desember, yang saat ini telah naik kembali ke 71.5%.
Pergerakan EUR/USD tertekan oleh ekspektasi ini. Minggu lalu, pasangan mata uang ini turun 0.89%, menembus garis rata-rata 21 hari, menunjukkan suasana bearish yang kuat. Dukungan jangka pendek berada di level 1.1468 dan 1.1391. Jika rebound mampu menembus garis rata-rata 21 hari, resistansi ke atas mengarah ke garis rata-rata 100 hari di sekitar 1.165.
Data utama minggu ini meliputi PCE bulan Oktober, PPI bulan September, dan revisi GDP kuartal ketiga. Data ini akan langsung mempengaruhi penilaian pasar terhadap arah kebijakan Federal Reserve, dan selanjutnya mempengaruhi performa Euro.
Masalah Depresiasi Yen—Intervensi Pemerintah Benar-Benar Akan Datang?
Dibandingkan dengan pelemahan Euro yang relatif perlahan, situasi Yen Jepang lebih mengkhawatirkan. USD/JPY minggu lalu sempat mencapai 157.89, mencatat rekor tertinggi dalam sepuluh bulan, dengan kenaikan mingguan sebesar 1.22%.
Mengapa Yen bisa jatuh begitu tajam? Ada dua alasan utama: pertama, ekspektasi pasar terhadap stimulus fiskal besar-besaran dari pemerintah Jepang, dan kedua, ini berarti jadwal kenaikan suku bunga Bank of Japan akan terus tertunda.
Pada 21 November, pemerintah Jepang menyetujui paket stimulus ekonomi sebesar 21.3 triliun Yen. Pengeluaran fiskal besar ini seharusnya menekan Yen lebih jauh, tetapi anehnya, Yen malah menguat kembali hari itu. Penyebabnya adalah—Menteri Keuangan Jepang, Suzuki, mulai mengeluarkan pernyataan keras, memperingatkan bahwa mereka tidak akan tinggal diam.
Ini berarti intervensi pemerintah tidak jauh lagi. Berdasarkan analisis pasar dan pergerakan harga opsi, secara umum diperkirakan bahwa otoritas Jepang akan melakukan beberapa kali peringatan lisan sebelum benar-benar melakukan pembelian Yen untuk menstabilkan nilai tukar. Beberapa analisis menyebutkan bahwa intervensi nyata kemungkinan akan terjadi dalam kisaran 1 USD = 158 hingga 162 Yen.
Secara teknikal, indikator RSI USD/JPY sudah memasuki wilayah overbought dan mulai berbalik turun, tetapi kekuatan bullish tetap kuat. Dalam jangka pendek, USD/JPY mungkin akan menguji kembali puncak sebelumnya di 157.89, dengan resistansi ke atas di sekitar 158.87. Jika situasi berbalik ke bawah, garis rata-rata 21 hari di 154.50 akan menjadi support utama.
Minggu ini, perhatian harus difokuskan pada apakah otoritas Jepang akan kembali meningkatkan retorika mereka, sementara data AS juga sangat penting. Setiap peningkatan retorika keras dapat memicu lonjakan turun jangka pendek USD/JPY.
Fokus Pasar Valuta Asing Minggu Depan
Dalam jangka pendek, ketidakpastian ekspektasi pemotongan suku bunga Federal Reserve akan terus mempengaruhi arah EUR/USD. Sementara Yen berada dalam posisi “intervensi pemerintah di ujung tanduk”, setiap pernyataan resmi bisa menjadi titik balik. Investor perlu menyeimbangkan antara data dan pernyataan kebijakan.