Dalam investasi saham, mempelajari indikator keuangan adalah hal yang tidak dapat dihindari “laba per saham” atau EPS (Earnings Per Share) adalah salah satu indikator yang paling populer dalam dunia investasi karena dapat membantu investor memahami potensi keuntungan perusahaan secara jelas
Menggunakan EPS untuk Pengambilan Keputusan Investasi
Investor sebaiknya tidak hanya bergantung pada EPS sebagai satu-satunya indikator dalam pengambilan keputusan, tetapi harus digunakan sebagai bagian dari analisis yang lebih luas Langkah pertama adalah membandingkan nilai EPS perusahaan yang diminati dengan perusahaan lain dalam industri yang sama, serta melihat tren nilai ini dari waktu ke waktu
Analisis tren EPS jangka panjang akan membantu menunjukkan efisiensi dan pertumbuhan nyata perusahaan Selain itu, periksa penyebab perubahan tersebut, apakah berasal dari peningkatan laba atau pengurangan biaya, dan pertimbangkan apakah tren ini akan berlanjut
Apa itu EPS dan Bagaimana Menghitungnya
EPS singkatan dari Earnings Per Share yang berarti “laba per saham” adalah rasio keuangan yang menunjukkan hubungan antara laba bersih perusahaan (setelah dikurangi biaya, bunga, dan pajak) dan jumlah saham yang telah dibayar
Rumus dasar perhitungan:
EPS = laba bersih / jumlah saham perusahaan yang telah dibayar
Namun, perhitungan resmi biasanya menggunakan rumus:
EPS = laba bersih / jumlah saham perusahaan yang telah dibayar rata-rata selama tahun
Contoh perhitungan EPS dalam situasi nyata
Misalnya, perusahaan PTT memiliki laba bersih 91.174,86 juta rupiah dan jumlah saham yang telah dibayar 28.562,9963909774 saham Perhitungan EPS akan menjadi:
Hasil ini menunjukkan bahwa setiap saham menghasilkan laba sebesar 3,19 rupiah
Mencari data EPS melalui situs utama sekuritas
Bagi yang tidak ingin menghitung sendiri, dapat mengunjungi situs SET, masuk ke bagian pencarian, ketik kode saham, pilih perusahaan, lalu lihat nilai EPS di bagian “Laporan Keuangan Utama”
Perbedaan antara Basic EPS, Diluted EPS, dan Adjusted EPS
Saat mempelajari EPS, investor akan menemukan berbagai bentuk indikator ini, yang masing-masing memiliki tujuan penggunaan yang berbeda
Basic EPS dihitung dari laba bersih dibagi jumlah saham yang beredar, tanpa memperhitungkan hak beli saham tambahan atau nilai wajar
Diluted EPS memasukkan saham konversi (seperti saham preferen atau hak beli saham) ke dalam perhitungan, memberikan gambaran konservatif jika saham konversi tersebut dikonversi menjadi saham biasa
Adjusted EPS adalah penyesuaian data keuangan agar mencerminkan kinerja utama perusahaan, dengan menghapus item tidak biasa atau satu kali, seperti laba/rugi dari penjualan aset
Bagaimana EPS dapat digunakan untuk analisis indikator lain
Rasio PE: Mengukur valuasi harga
Rasio PE = harga pasar per saham / EPS
Indikator ini memberi tahu berapa banyak investor harus membayar untuk satu rupiah laba perusahaan Semakin rendah rasio PE, semakin murah saham menurut prinsipnya Jika harga saham 100 rupiah dan EPS 10 rupiah, maka rasio PE adalah 10
Pertumbuhan EPS: Memantau ekspansi
Pertumbuhan EPS = (EPS saat ini – EPS sebelumnya) / EPS sebelumnya × 100
Indikator ini menunjukkan seberapa besar laba per saham tumbuh dalam periode tertentu Jika EPS berubah dari 8 menjadi 12 rupiah, maka pertumbuhan EPS adalah (12-8)/8 × 100 = 50%
Jika perusahaan membayar dividen 10 juta rupiah dan laba bersih 50 juta rupiah, maka rasio pembayaran dividen adalah (10/50) × 100 = 20% yang berarti perusahaan membayar 20% dari laba kepada pemegang saham dan menyisakan dana untuk investasi
Keterbatasan yang perlu diketahui investor
Meskipun EPS adalah indikator yang berguna, ada beberapa keterbatasan
Pertama, EPS tidak mencerminkan risiko terkait investasi, perusahaan bisa memiliki EPS tinggi tetapi tingkat utang tinggi atau bisnis yang volatil
Kedua, nilai EPS adalah data historis, tidak dapat memprediksi masa depan secara lengkap Perusahaan dengan EPS baik di masa lalu bisa menghadapi tantangan baru
Ketiga, EPS dapat meningkat karena buyback saham (Stock Buyback) yang mengurangi jumlah saham di pasar, meskipun laba total tidak bertambah
Selain itu, EPS tidak memberi tahu kualitas laba yang sebenarnya, perusahaan bisa meningkatkan laba melalui akuntansi yang manipulatif atau transaksi satu kali
Bagaimana seharusnya EPS yang baik
Mengatakan bahwa EPS “tinggi” tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa itu baik, harus mempertimbangkan banyak faktor
Pertama, bandingkan EPS dengan sejarah perusahaan; tren peningkatan berkelanjutan selama beberapa tahun dianggap lebih baik daripada EPS tinggi tetapi tidak konsisten
Kedua, bandingkan dengan perusahaan lain dalam industri; EPS 50 rupiah mungkin baik untuk satu perusahaan, tetapi rendah untuk perusahaan lain dalam industri yang sama
Ketiga, pertimbangkan rasio PE; saham dengan EPS 100 rupiah dan PE 40 mungkin lebih mahal daripada saham dengan EPS 50 rupiah dan PE 15
Terakhir, perhatikan kualitas laba yang berasal dari pertumbuhan bisnis utama, yang lebih baik daripada laba dari penjualan aset atau akuntansi kreatif
Kesimpulan
EPS (Earnings Per Share) atau laba per saham adalah alat yang berguna bagi investor untuk memahami efisiensi keuntungan perusahaan, tetapi tidak boleh digunakan secara tunggal Investor sebaiknya mempertimbangkan EPS bersama indikator lain seperti Rasio PE, Rasio Pembayaran Dividen, Return on Assets (ROA), dan indikator keuangan lainnya
Saat menganalisis EPS, perhatikan tren, pelajari kualitas laba, dan bandingkan dengan pesaing Dengan cara ini, investor dapat membuat keputusan yang lebih berinformasi dan meningkatkan peluang keberhasilan investasi
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Laba per saham (EPS) Panduan untuk investor yang ingin memahami indikator utama
Dalam investasi saham, mempelajari indikator keuangan adalah hal yang tidak dapat dihindari “laba per saham” atau EPS (Earnings Per Share) adalah salah satu indikator yang paling populer dalam dunia investasi karena dapat membantu investor memahami potensi keuntungan perusahaan secara jelas
Menggunakan EPS untuk Pengambilan Keputusan Investasi
Investor sebaiknya tidak hanya bergantung pada EPS sebagai satu-satunya indikator dalam pengambilan keputusan, tetapi harus digunakan sebagai bagian dari analisis yang lebih luas Langkah pertama adalah membandingkan nilai EPS perusahaan yang diminati dengan perusahaan lain dalam industri yang sama, serta melihat tren nilai ini dari waktu ke waktu
Analisis tren EPS jangka panjang akan membantu menunjukkan efisiensi dan pertumbuhan nyata perusahaan Selain itu, periksa penyebab perubahan tersebut, apakah berasal dari peningkatan laba atau pengurangan biaya, dan pertimbangkan apakah tren ini akan berlanjut
Apa itu EPS dan Bagaimana Menghitungnya
EPS singkatan dari Earnings Per Share yang berarti “laba per saham” adalah rasio keuangan yang menunjukkan hubungan antara laba bersih perusahaan (setelah dikurangi biaya, bunga, dan pajak) dan jumlah saham yang telah dibayar
Rumus dasar perhitungan:
EPS = laba bersih / jumlah saham perusahaan yang telah dibayar
Namun, perhitungan resmi biasanya menggunakan rumus:
EPS = laba bersih / jumlah saham perusahaan yang telah dibayar rata-rata selama tahun
Contoh perhitungan EPS dalam situasi nyata
Misalnya, perusahaan PTT memiliki laba bersih 91.174,86 juta rupiah dan jumlah saham yang telah dibayar 28.562,9963909774 saham Perhitungan EPS akan menjadi:
EPS = 91.174,86 ÷ 28.562,9963909774 = 3.19206216155 rupiah
Hasil ini menunjukkan bahwa setiap saham menghasilkan laba sebesar 3,19 rupiah
Mencari data EPS melalui situs utama sekuritas
Bagi yang tidak ingin menghitung sendiri, dapat mengunjungi situs SET, masuk ke bagian pencarian, ketik kode saham, pilih perusahaan, lalu lihat nilai EPS di bagian “Laporan Keuangan Utama”
Perbedaan antara Basic EPS, Diluted EPS, dan Adjusted EPS
Saat mempelajari EPS, investor akan menemukan berbagai bentuk indikator ini, yang masing-masing memiliki tujuan penggunaan yang berbeda
Basic EPS dihitung dari laba bersih dibagi jumlah saham yang beredar, tanpa memperhitungkan hak beli saham tambahan atau nilai wajar
Diluted EPS memasukkan saham konversi (seperti saham preferen atau hak beli saham) ke dalam perhitungan, memberikan gambaran konservatif jika saham konversi tersebut dikonversi menjadi saham biasa
Adjusted EPS adalah penyesuaian data keuangan agar mencerminkan kinerja utama perusahaan, dengan menghapus item tidak biasa atau satu kali, seperti laba/rugi dari penjualan aset
Bagaimana EPS dapat digunakan untuk analisis indikator lain
Rasio PE: Mengukur valuasi harga
Rasio PE = harga pasar per saham / EPS
Indikator ini memberi tahu berapa banyak investor harus membayar untuk satu rupiah laba perusahaan Semakin rendah rasio PE, semakin murah saham menurut prinsipnya Jika harga saham 100 rupiah dan EPS 10 rupiah, maka rasio PE adalah 10
Pertumbuhan EPS: Memantau ekspansi
Pertumbuhan EPS = (EPS saat ini – EPS sebelumnya) / EPS sebelumnya × 100
Indikator ini menunjukkan seberapa besar laba per saham tumbuh dalam periode tertentu Jika EPS berubah dari 8 menjadi 12 rupiah, maka pertumbuhan EPS adalah (12-8)/8 × 100 = 50%
Rasio Pembayaran Dividen: Mengukur kebijakan pembayaran dividen
Rasio Pembayaran Dividen = (Dividen per saham / EPS) × 100
Jika perusahaan membayar dividen 10 juta rupiah dan laba bersih 50 juta rupiah, maka rasio pembayaran dividen adalah (10/50) × 100 = 20% yang berarti perusahaan membayar 20% dari laba kepada pemegang saham dan menyisakan dana untuk investasi
Keterbatasan yang perlu diketahui investor
Meskipun EPS adalah indikator yang berguna, ada beberapa keterbatasan
Pertama, EPS tidak mencerminkan risiko terkait investasi, perusahaan bisa memiliki EPS tinggi tetapi tingkat utang tinggi atau bisnis yang volatil
Kedua, nilai EPS adalah data historis, tidak dapat memprediksi masa depan secara lengkap Perusahaan dengan EPS baik di masa lalu bisa menghadapi tantangan baru
Ketiga, EPS dapat meningkat karena buyback saham (Stock Buyback) yang mengurangi jumlah saham di pasar, meskipun laba total tidak bertambah
Selain itu, EPS tidak memberi tahu kualitas laba yang sebenarnya, perusahaan bisa meningkatkan laba melalui akuntansi yang manipulatif atau transaksi satu kali
Bagaimana seharusnya EPS yang baik
Mengatakan bahwa EPS “tinggi” tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa itu baik, harus mempertimbangkan banyak faktor
Pertama, bandingkan EPS dengan sejarah perusahaan; tren peningkatan berkelanjutan selama beberapa tahun dianggap lebih baik daripada EPS tinggi tetapi tidak konsisten
Kedua, bandingkan dengan perusahaan lain dalam industri; EPS 50 rupiah mungkin baik untuk satu perusahaan, tetapi rendah untuk perusahaan lain dalam industri yang sama
Ketiga, pertimbangkan rasio PE; saham dengan EPS 100 rupiah dan PE 40 mungkin lebih mahal daripada saham dengan EPS 50 rupiah dan PE 15
Terakhir, perhatikan kualitas laba yang berasal dari pertumbuhan bisnis utama, yang lebih baik daripada laba dari penjualan aset atau akuntansi kreatif
Kesimpulan
EPS (Earnings Per Share) atau laba per saham adalah alat yang berguna bagi investor untuk memahami efisiensi keuntungan perusahaan, tetapi tidak boleh digunakan secara tunggal Investor sebaiknya mempertimbangkan EPS bersama indikator lain seperti Rasio PE, Rasio Pembayaran Dividen, Return on Assets (ROA), dan indikator keuangan lainnya
Saat menganalisis EPS, perhatikan tren, pelajari kualitas laba, dan bandingkan dengan pesaing Dengan cara ini, investor dapat membuat keputusan yang lebih berinformasi dan meningkatkan peluang keberhasilan investasi