Banyak orang sering berpikir bahwa perencanaan keuangan adalah urusan orang tua atau orang dengan penghasilan tinggi. Tetapi kenyataannya, situasi ekonomi saat ini dan pelajaran dari krisis COVID-19 memberi tahu kita bahwa setiap orang, tidak peduli berapa penghasilannya, harus memiliki “rencana keuangan” yang jelas.
Mengapa harus merencanakan keuangan? Mari kita lihat alasan sebenarnya
1. Umur yang panjang, tetapi uang tidak mengikuti panjangnya hidup
Berdasarkan data statistik, umur harapan hidup pria Thailand rata-rata 71,3 tahun dan wanita Thailand 78,2 tahun. Jika pensiun di usia 60 tahun dan harus menjalani 20-30 tahun setelahnya, pengeluaran bulanan sebesar 30.000 Baht saja akan membutuhkan 7,2 juta Baht untuk masa pensiun tersebut.
Yang lucu adalah statistik menunjukkan bahwa dari 100 orang, hanya 25 orang yang memiliki cukup uang setelah pensiun. Sisanya 75 orang harus bergantung pada manfaat sosial atau anak cucu, yang jumlahnya tidak banyak dan memberikan dukungan terbatas.
2. Struktur keluarga yang berubah, jangan berpikir akan bergantung pada anak
Waktu berlalu, generasi muda memiliki lebih sedikit anak. Rata-rata satu keluarga hanya 1-2 orang karena biaya hidup yang tinggi dan umur yang semakin panjang. Statistik menunjukkan bahwa 55,8% orang tua lanjut usia harus bergantung pada orang lain, kebanyakan adalah anak cucu. Tetapi sebenarnya, ketika diri sendiri mengalami masalah keuangan, peluang membantu orang tua semakin kecil.
Oleh karena itu, “bergantung pada diri sendiri” bukan sekadar slogan, tetapi kenyataan.
3. Inflasi: Musuh yang membuat uang kehilangan nilai
Mari kita lihat kembali, 20-30 tahun yang lalu, harga semangkuk mie ayam sekitar 5-10 Baht. Sekarang 40-50 Baht. Dalam 30 tahun lagi, mungkin akan menjadi 100+ Baht.
Inflasi berarti uang secara perlahan kehilangan daya belinya. Biaya hidup meningkat tanpa henti. Jadi, jika tidak berinvestasi untuk “mengalahkan inflasi”, tabungan kita akan menjadi kertas tanpa nilai.
4. Manfaat sosial: Ada, tetapi tidak cukup
Dalam 15 tahun ke depan, proporsi orang lanjut usia akan meningkat dari 10% menjadi 20% dari total populasi. Sementara itu, jumlah pekerja menurun dari 6 orang per orang tua menjadi hanya 3 orang.
Ini berarti, pajak yang dikumpulkan negara berkurang, tetapi manfaat harus meningkat. Hasilnya, manfaat sosial tidak cukup, pensiun hanya 600 Baht per bulan, dana jaminan sosial rata-rata 3.000 Baht. Apakah ini cukup?
5. Produk keuangan: Rumit tetapi peluang besar
Dulu, menyimpan uang di bank sudah cukup memberikan hasil. Sekarang, suku bunga sekitar 1,00%-2,00%, yang terendah dalam sejarah. Menyimpan uang saja tidak cukup.
Beruntung, saat ini ada banyak pilihan: lebih dari 726 saham, 1.537 dana investasi, asuransi jiwa, asuransi kesehatan, dan banyak lagi. Jika tahu cara memilih, uang kita bisa bekerja lebih baik.
6. Menabung sejak dini = hasil yang luar biasa
Mari bandingkan, jika Anda menabung 5.000 Baht per bulan selama 15 tahun dengan modal awal 10.000 Baht:
Kasus 1 (Menabung secara teratur)
Hasil 5% per tahun
Total tabungan: 1.357.582 Baht
Kasus 2 (Tanpa rencana)
Hasil 1% (hanya simpan di bank)
Total tabungan: 11.607 Baht
Perbedaannya adalah 1.345.975 Baht untuk orang yang menabung selama 15 tahun.
7. Risiko hidup: COVID-19 menunjukkan semuanya
Selama COVID-19, banyak orang kehilangan pekerjaan. Rumah tangga hanya memiliki pengeluaran, tidak ada pendapatan. Beberapa keluarga kehilangan kepala keluarga, meninggalkan utang kepada orang tercinta. Ada yang sakit parah dan harus mengeluarkan jutaan Baht. Dan satu nyawa pun hilang.
Jika memiliki “asuransi diri” yang baik dan “dana darurat” yang cukup, dampaknya akan jauh berkurang.
Bagaimana merencanakan keuangan secara sistematis?
Langkah 1: Tetapkan tujuan hidup yang jelas
Masalah yang banyak orang hadapi adalah tidak tahu untuk apa mereka menabung. Hidup menjadi “mengambang”.
Coba pikirkan:
Ingin membeli rumah, mobil, atau pergi? Atau hanya bermimpi saja?
Usia berapa ingin pensiun?
Bagaimana ingin merancang hidup setelah pensiun?
Dengan memiliki tujuan, pemilihan produk keuangan akan lebih jelas, seperti:
Rumah/mobil: harus menabung selama 10-15 tahun
Pensiun: harus menabung selama 20-30 tahun
Asuransi jiwa: harus dipertahankan seumur hidup
Langkah 2: Periksa kesehatan keuangan dengan laporan keuangan
Setelah bekerja bertahun-tahun, harus rutin memeriksa kesehatan tubuh. Tetapi banyak yang tidak pernah memeriksa “kesehatan keuangan”.
Catat semua aset:
Uang di rekening
Investasi (saham, dana)
Nilai rumah, mobil
Barang koleksi yang bernilai
Dan semua utang:
Utang rumah, mobil
Kartu kredit
Utang pribadi
Perhitungan: Total aset – total utang = kekayaan bersih
Semakin besar angka ini, semakin baik.
Langkah 3: Catat pendapatan dan pengeluaran secara rutin
90% orang yang baru mulai bekerja menghadapi satu masalah: “Bulan ke bulan tidak cukup uang.”
Solusinya sederhana: catat setiap hari, lihat uang mana yang penting, mana yang boros. Sekarang ada aplikasi keuangan yang membantu, atau cukup catat di dokumen biasa.
Lakukan selama 7 hari pertama, akan terbiasa. Di akhir tahun, totalnya akan terlihat berapa yang bisa disimpan, dan apa yang bisa direncanakan selanjutnya.
Langkah 4: Siapkan dana darurat 3-6 kali pengeluaran penting
Jangan berharap kehilangan pekerjaan, sakit, atau kejadian darurat lainnya terjadi secara tiba-tiba.
Dana darurat harus:
Disimpan di tempat aman, seperti rekening tabungan atau dana pasar uang
Bisa diambil kapan saja, tanpa menunggu
Memiliki risiko terendah
Jika sudah punya tabungan 3-6 bulan pengeluaran, Anda akan tidur lebih nyenyak.
Langkah 5: Simpan sebelum gunakan, jangan berhutang berlebihan
Banyak orang mengurangi pengeluaran dengan pola: “Bulan ini gaji, langsung bayar mobil, rumah, dan pengeluaran penuh. Akhir bulan baru menabung.” Hasilnya, tidak menabung sama sekali.
Ubah menjadi: Pendapatan – tabungan = pengeluaran
Setidaknya, tabung minimal 10% dari penghasilan. Lebih dari itu akan lebih baik.
Mengenai utang, jangan berhutang lebih dari 45% dari penghasilan. Contoh:
Penghasilan 20.000 Baht
Cicilan tidak boleh lebih dari 9.000 Baht
Jika lebih, hidup akan sulit.
Langkah 6: Lindungi diri dengan asuransi
Banyak orang punya asuransi rumah, mobil, tetapi lupa asuransi diri, asuransi jiwa, dan kesehatan.
Padahal, risiko terbesar adalah:
Penyakit berat
Kehilangan kepala keluarga
Kehilangan kemampuan mencari penghasilan
Tanpa asuransi, kejadian ini bisa membuat keluarga menjadi kacau.
Langkah 7: Bangun sumber penghasilan cadangan dari jalur lain
COVID-19 membuktikan bahwa “pekerjaan yang stabil” tidak ada. Lebih dari 1 juta orang kehilangan pekerjaan saat itu.
Cara menambah penghasilan: gunakan waktu luang untuk mencari penghasilan lain
Freelance
Jualan online
Mengajar privat
Atau sesuai keahlian
Memiliki dua jalur penghasilan bukan sekadar “pilihan”, tetapi “keberlangsungan”.
Langkah 8: Biarkan uang “bekerja” melalui investasi
Uang yang disimpan harus diinvestasikan agar bisa berkembang. Investasikan di aset yang sesuai.
Pilihan meliputi:
Saham/dana investasi: hasil 5-7% per tahun, tetapi berisiko
Saham dividen: hasil dari dividen secara rutin
Obligasi: bunga tetap, lebih aman
Properti: pendapatan sewa tetap
Jika berinvestasi di waktu yang tepat, hasilnya akan terlihat dalam jangka panjang.
Langkah 9: Investasi dalam pengetahuan
Pelajari tentang keuangan dan investasi:
Gratis: YouTube, Podcast, situs edukasi SEO
Berbayar: Kursus online bersertifikat
Luangkan waktu minimal 1-3 jam per minggu. Pengetahuan yang meningkat akan membantu pengambilan keputusan yang lebih baik.
Ringkasan: Perencanaan keuangan adalah perjalanan dengan “peta”
Kalau bilang pulang dari jauh, tidak memberi tahu kapan akan pulang, bagaimana sampai di sana, cara apa yang digunakan, pasti akan tersesat.
Hidup juga sama, jika tidak punya rencana, akan tersesat. Rumah pilihan pun hanya berjalan tanpa arah.
Langkah awal ada di diri Anda. Ketika memahami mengapa harus merencanakan keuangan, dan mengikuti langkah-langkah:
Tetapkan tujuan
Periksa kesehatan keuangan
Catat pendapatan dan pengeluaran
Siapkan dana darurat
Simpan sebelum gunakan
Lindungi diri dengan asuransi
Bangun penghasilan tambahan
Investasikan untuk mengalahkan inflasi
Belajar terus-menerus
Dalam beberapa tahun, Anda akan merasa bahwa keuangan lebih stabil, lebih percaya diri, dan mampu menghadapi krisis apa pun.
Perencanaan keuangan bukan hal yang sulit, hanya perlu “kemauan” dan “disiplin”.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Mengapa perencanaan keuangan menjadi hal yang penting sejak saat ini
Banyak orang sering berpikir bahwa perencanaan keuangan adalah urusan orang tua atau orang dengan penghasilan tinggi. Tetapi kenyataannya, situasi ekonomi saat ini dan pelajaran dari krisis COVID-19 memberi tahu kita bahwa setiap orang, tidak peduli berapa penghasilannya, harus memiliki “rencana keuangan” yang jelas.
Mengapa harus merencanakan keuangan? Mari kita lihat alasan sebenarnya
1. Umur yang panjang, tetapi uang tidak mengikuti panjangnya hidup
Berdasarkan data statistik, umur harapan hidup pria Thailand rata-rata 71,3 tahun dan wanita Thailand 78,2 tahun. Jika pensiun di usia 60 tahun dan harus menjalani 20-30 tahun setelahnya, pengeluaran bulanan sebesar 30.000 Baht saja akan membutuhkan 7,2 juta Baht untuk masa pensiun tersebut.
Yang lucu adalah statistik menunjukkan bahwa dari 100 orang, hanya 25 orang yang memiliki cukup uang setelah pensiun. Sisanya 75 orang harus bergantung pada manfaat sosial atau anak cucu, yang jumlahnya tidak banyak dan memberikan dukungan terbatas.
2. Struktur keluarga yang berubah, jangan berpikir akan bergantung pada anak
Waktu berlalu, generasi muda memiliki lebih sedikit anak. Rata-rata satu keluarga hanya 1-2 orang karena biaya hidup yang tinggi dan umur yang semakin panjang. Statistik menunjukkan bahwa 55,8% orang tua lanjut usia harus bergantung pada orang lain, kebanyakan adalah anak cucu. Tetapi sebenarnya, ketika diri sendiri mengalami masalah keuangan, peluang membantu orang tua semakin kecil.
Oleh karena itu, “bergantung pada diri sendiri” bukan sekadar slogan, tetapi kenyataan.
3. Inflasi: Musuh yang membuat uang kehilangan nilai
Mari kita lihat kembali, 20-30 tahun yang lalu, harga semangkuk mie ayam sekitar 5-10 Baht. Sekarang 40-50 Baht. Dalam 30 tahun lagi, mungkin akan menjadi 100+ Baht.
Inflasi berarti uang secara perlahan kehilangan daya belinya. Biaya hidup meningkat tanpa henti. Jadi, jika tidak berinvestasi untuk “mengalahkan inflasi”, tabungan kita akan menjadi kertas tanpa nilai.
4. Manfaat sosial: Ada, tetapi tidak cukup
Dalam 15 tahun ke depan, proporsi orang lanjut usia akan meningkat dari 10% menjadi 20% dari total populasi. Sementara itu, jumlah pekerja menurun dari 6 orang per orang tua menjadi hanya 3 orang.
Ini berarti, pajak yang dikumpulkan negara berkurang, tetapi manfaat harus meningkat. Hasilnya, manfaat sosial tidak cukup, pensiun hanya 600 Baht per bulan, dana jaminan sosial rata-rata 3.000 Baht. Apakah ini cukup?
5. Produk keuangan: Rumit tetapi peluang besar
Dulu, menyimpan uang di bank sudah cukup memberikan hasil. Sekarang, suku bunga sekitar 1,00%-2,00%, yang terendah dalam sejarah. Menyimpan uang saja tidak cukup.
Beruntung, saat ini ada banyak pilihan: lebih dari 726 saham, 1.537 dana investasi, asuransi jiwa, asuransi kesehatan, dan banyak lagi. Jika tahu cara memilih, uang kita bisa bekerja lebih baik.
6. Menabung sejak dini = hasil yang luar biasa
Mari bandingkan, jika Anda menabung 5.000 Baht per bulan selama 15 tahun dengan modal awal 10.000 Baht:
Kasus 1 (Menabung secara teratur)
Kasus 2 (Tanpa rencana)
Perbedaannya adalah 1.345.975 Baht untuk orang yang menabung selama 15 tahun.
7. Risiko hidup: COVID-19 menunjukkan semuanya
Selama COVID-19, banyak orang kehilangan pekerjaan. Rumah tangga hanya memiliki pengeluaran, tidak ada pendapatan. Beberapa keluarga kehilangan kepala keluarga, meninggalkan utang kepada orang tercinta. Ada yang sakit parah dan harus mengeluarkan jutaan Baht. Dan satu nyawa pun hilang.
Jika memiliki “asuransi diri” yang baik dan “dana darurat” yang cukup, dampaknya akan jauh berkurang.
Bagaimana merencanakan keuangan secara sistematis?
Langkah 1: Tetapkan tujuan hidup yang jelas
Masalah yang banyak orang hadapi adalah tidak tahu untuk apa mereka menabung. Hidup menjadi “mengambang”.
Coba pikirkan:
Dengan memiliki tujuan, pemilihan produk keuangan akan lebih jelas, seperti:
Langkah 2: Periksa kesehatan keuangan dengan laporan keuangan
Setelah bekerja bertahun-tahun, harus rutin memeriksa kesehatan tubuh. Tetapi banyak yang tidak pernah memeriksa “kesehatan keuangan”.
Catat semua aset:
Dan semua utang:
Perhitungan: Total aset – total utang = kekayaan bersih
Semakin besar angka ini, semakin baik.
Langkah 3: Catat pendapatan dan pengeluaran secara rutin
90% orang yang baru mulai bekerja menghadapi satu masalah: “Bulan ke bulan tidak cukup uang.”
Solusinya sederhana: catat setiap hari, lihat uang mana yang penting, mana yang boros. Sekarang ada aplikasi keuangan yang membantu, atau cukup catat di dokumen biasa.
Lakukan selama 7 hari pertama, akan terbiasa. Di akhir tahun, totalnya akan terlihat berapa yang bisa disimpan, dan apa yang bisa direncanakan selanjutnya.
Langkah 4: Siapkan dana darurat 3-6 kali pengeluaran penting
Jangan berharap kehilangan pekerjaan, sakit, atau kejadian darurat lainnya terjadi secara tiba-tiba.
Dana darurat harus:
Jika sudah punya tabungan 3-6 bulan pengeluaran, Anda akan tidur lebih nyenyak.
Langkah 5: Simpan sebelum gunakan, jangan berhutang berlebihan
Banyak orang mengurangi pengeluaran dengan pola: “Bulan ini gaji, langsung bayar mobil, rumah, dan pengeluaran penuh. Akhir bulan baru menabung.” Hasilnya, tidak menabung sama sekali.
Ubah menjadi: Pendapatan – tabungan = pengeluaran
Setidaknya, tabung minimal 10% dari penghasilan. Lebih dari itu akan lebih baik.
Mengenai utang, jangan berhutang lebih dari 45% dari penghasilan. Contoh:
Langkah 6: Lindungi diri dengan asuransi
Banyak orang punya asuransi rumah, mobil, tetapi lupa asuransi diri, asuransi jiwa, dan kesehatan.
Padahal, risiko terbesar adalah:
Tanpa asuransi, kejadian ini bisa membuat keluarga menjadi kacau.
Langkah 7: Bangun sumber penghasilan cadangan dari jalur lain
COVID-19 membuktikan bahwa “pekerjaan yang stabil” tidak ada. Lebih dari 1 juta orang kehilangan pekerjaan saat itu.
Cara menambah penghasilan: gunakan waktu luang untuk mencari penghasilan lain
Memiliki dua jalur penghasilan bukan sekadar “pilihan”, tetapi “keberlangsungan”.
Langkah 8: Biarkan uang “bekerja” melalui investasi
Uang yang disimpan harus diinvestasikan agar bisa berkembang. Investasikan di aset yang sesuai.
Pilihan meliputi:
Jika berinvestasi di waktu yang tepat, hasilnya akan terlihat dalam jangka panjang.
Langkah 9: Investasi dalam pengetahuan
Pelajari tentang keuangan dan investasi:
Luangkan waktu minimal 1-3 jam per minggu. Pengetahuan yang meningkat akan membantu pengambilan keputusan yang lebih baik.
Ringkasan: Perencanaan keuangan adalah perjalanan dengan “peta”
Kalau bilang pulang dari jauh, tidak memberi tahu kapan akan pulang, bagaimana sampai di sana, cara apa yang digunakan, pasti akan tersesat.
Hidup juga sama, jika tidak punya rencana, akan tersesat. Rumah pilihan pun hanya berjalan tanpa arah.
Langkah awal ada di diri Anda. Ketika memahami mengapa harus merencanakan keuangan, dan mengikuti langkah-langkah:
Dalam beberapa tahun, Anda akan merasa bahwa keuangan lebih stabil, lebih percaya diri, dan mampu menghadapi krisis apa pun.
Perencanaan keuangan bukan hal yang sulit, hanya perlu “kemauan” dan “disiplin”.