Berhasil mengungkap jaringan penipuan berbasis Kanada yang menyamar sebagai layanan pelanggan dari sebuah bursa dan mencuri aset lebih dari 2 juta dolar (sekitar 320 juta yen Jepang) berkat kekuatan analisis blockchain. Dengan menggabungkan data on-chain dan analisis tangkapan layar, para penyelidik mampu mengungkap seluruh kegiatan penipuan terorganisir yang berlangsung lebih dari satu tahun.
Realitas Penipuan Skala Besar melalui Taktik Rekayasa Sosial
Metode yang digunakan untuk menipu korban bukanlah penyalahgunaan teknologi tingkat tinggi, melainkan trik klasik rekayasa sosial. Pelaku penipuan menciptakan kesan urgensi melalui peringatan keamanan palsu, memancing pengguna untuk memasukkan informasi login dan kode otentikasi dua faktor.
Dari jejak online, tersangka menggunakan beberapa handle seperti “Haby” dan “Havard”. Kebanggaan mereka di grup Telegram dan pamer dana di obrolan pribadi akhirnya mengarah pada identifikasi identitas mereka. Mereka mencoba menghindari deteksi dengan membeli username Telegram yang mahal dan menghapus akun lama, tetapi perilaku online yang berulang memudahkan penyelidikan.
Melacak Jaringan Penipuan melalui Analisis Rantai
Menurut penyelidikan, pada akhir Desember 2024, pelaku penipuan membanggakan screenshot yang menunjukkan mereka telah mencuri 21.000 XRP (sekitar $44.000 saat itu, harga XRP saat ini sekitar $2.10). Analisis mendalam kemudian mengungkap bahwa alamat XRP tertentu terkait dengan pencurian tambahan senilai sekitar $500.000.
XRP yang dicuri cenderung langsung ditukar ke Bitcoin, sebuah taktik yang disengaja untuk mengaburkan riwayat transaksi. Melalui analisis saldo dompet dan waktu transaksi, penyelidik mengidentifikasi alamat yang memegang sekitar $237.000 dalam Bitcoin (harga BTC saat ini sekitar $90.49K) per Februari 2025. Lebih jauh, penyelidikan retrospektif mengungkap tiga pencurian tambahan bernilai lebih dari $560.000.
Rekaman layar yang bocor menunjukkan pelaku penipuan saat menelepon korban dan menyamar sebagai petugas dukungan, tanpa sadar mengungkapkan alamat email dan akun Telegram mereka.
Ancaman Meningkat yang Dihadapi Pengguna Aset Kripto
Pengungkapan ini menunjukkan bahwa kejadian besar serupa terus terjadi di luar negeri. Di India, mantan petugas dukungan dari sebuah bursa pernah ditangkap terkait kebocoran data yang mempengaruhi sekitar 70.000 pengguna.
Di AS, kasus penipuan serupa sedang berlangsung, di mana seorang pria berusia 23 tahun di Brooklyn didakwa telah menipu sekitar 100 pengguna dengan total kerugian mencapai $16 juta. Analisis blockchain memainkan peran penting dalam kasus ini, dan proses penyitaan serta pemulihan aset sedang berlangsung.
Data industri menunjukkan bahwa pencurian aset kripto tetap menjadi masalah serius, dengan lebih dari $3,4 miliar hilang dari seluruh sektor dari awal 2025 hingga awal Desember.
Langkah Praktis Melindungi Pengguna
Para ahli sangat menyarankan langkah-langkah pencegahan berikut:
Jangan pernah merespons pesan dari pihak manapun (telepon, teks, email)
Jangan pernah berbagi password, frase pemulihan, atau kode otentikasi dua faktor
Saat menghubungi layanan dukungan, pastikan melalui situs resmi atau aplikasi resmi
Jika menerima notifikasi aktivitas mencurigakan, verifikasi langsung melalui saluran komunikasi lain bahwa itu benar dari bursa
Rekayasa sosial tidak memerlukan keahlian teknis tinggi untuk menyebabkan kerugian besar, sehingga kewaspadaan individu pengguna adalah garis pertahanan utama.
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Penipuan aset kripto semakin meningkat: Investigasi blockchain mengungkap kasus penipuan besar senilai 2 juta dolar
Berhasil mengungkap jaringan penipuan berbasis Kanada yang menyamar sebagai layanan pelanggan dari sebuah bursa dan mencuri aset lebih dari 2 juta dolar (sekitar 320 juta yen Jepang) berkat kekuatan analisis blockchain. Dengan menggabungkan data on-chain dan analisis tangkapan layar, para penyelidik mampu mengungkap seluruh kegiatan penipuan terorganisir yang berlangsung lebih dari satu tahun.
Realitas Penipuan Skala Besar melalui Taktik Rekayasa Sosial
Metode yang digunakan untuk menipu korban bukanlah penyalahgunaan teknologi tingkat tinggi, melainkan trik klasik rekayasa sosial. Pelaku penipuan menciptakan kesan urgensi melalui peringatan keamanan palsu, memancing pengguna untuk memasukkan informasi login dan kode otentikasi dua faktor.
Dari jejak online, tersangka menggunakan beberapa handle seperti “Haby” dan “Havard”. Kebanggaan mereka di grup Telegram dan pamer dana di obrolan pribadi akhirnya mengarah pada identifikasi identitas mereka. Mereka mencoba menghindari deteksi dengan membeli username Telegram yang mahal dan menghapus akun lama, tetapi perilaku online yang berulang memudahkan penyelidikan.
Melacak Jaringan Penipuan melalui Analisis Rantai
Menurut penyelidikan, pada akhir Desember 2024, pelaku penipuan membanggakan screenshot yang menunjukkan mereka telah mencuri 21.000 XRP (sekitar $44.000 saat itu, harga XRP saat ini sekitar $2.10). Analisis mendalam kemudian mengungkap bahwa alamat XRP tertentu terkait dengan pencurian tambahan senilai sekitar $500.000.
XRP yang dicuri cenderung langsung ditukar ke Bitcoin, sebuah taktik yang disengaja untuk mengaburkan riwayat transaksi. Melalui analisis saldo dompet dan waktu transaksi, penyelidik mengidentifikasi alamat yang memegang sekitar $237.000 dalam Bitcoin (harga BTC saat ini sekitar $90.49K) per Februari 2025. Lebih jauh, penyelidikan retrospektif mengungkap tiga pencurian tambahan bernilai lebih dari $560.000.
Rekaman layar yang bocor menunjukkan pelaku penipuan saat menelepon korban dan menyamar sebagai petugas dukungan, tanpa sadar mengungkapkan alamat email dan akun Telegram mereka.
Ancaman Meningkat yang Dihadapi Pengguna Aset Kripto
Pengungkapan ini menunjukkan bahwa kejadian besar serupa terus terjadi di luar negeri. Di India, mantan petugas dukungan dari sebuah bursa pernah ditangkap terkait kebocoran data yang mempengaruhi sekitar 70.000 pengguna.
Di AS, kasus penipuan serupa sedang berlangsung, di mana seorang pria berusia 23 tahun di Brooklyn didakwa telah menipu sekitar 100 pengguna dengan total kerugian mencapai $16 juta. Analisis blockchain memainkan peran penting dalam kasus ini, dan proses penyitaan serta pemulihan aset sedang berlangsung.
Data industri menunjukkan bahwa pencurian aset kripto tetap menjadi masalah serius, dengan lebih dari $3,4 miliar hilang dari seluruh sektor dari awal 2025 hingga awal Desember.
Langkah Praktis Melindungi Pengguna
Para ahli sangat menyarankan langkah-langkah pencegahan berikut:
Rekayasa sosial tidak memerlukan keahlian teknis tinggi untuk menyebabkan kerugian besar, sehingga kewaspadaan individu pengguna adalah garis pertahanan utama.