Mengapa Pasar Aset Kripto Sedang Menurun? Analisis Kesenjangan dengan Likuiditas
Latar belakang makroekonomi tampak kontradiktif. Meskipun pasokan M2 global mendekati rekor tertinggi sebesar 130 triliun dolar dan bank sentral utama secara berurutan menerapkan kebijakan pelonggaran, kapitalisasi pasar aset kripto mengalami penurunan tajam sebesar 21% pada kuartal keempat tahun 2025. Paradoks ini penting dipahami karena menjadi kunci utama dalam memperkirakan prospek aset risiko tahun 2026.
Kondisi likuiditas saat ini menunjukkan bahwa, melalui rencana fiskal AS sebesar 400 miliar dolar dan tiga kali pemotongan suku bunga oleh Federal Reserve, sistem perbankan menerima suntikan dana. Namun, meskipun ada faktor makro ini, psikologi investor tetap berhati-hati, dan ketidakpastian regulasi serta tekanan pengambilan keuntungan terus menekan pasar.
M2 Global: Isyarat Perubahan Struktural dari Rekor Tertinggi
Situasi likuiditas keuangan dunia mengalami perubahan drastis. Data terbaru dari Alphractal menunjukkan bahwa M2 global mendekati 130 triliun dolar dan telah memperbarui rekor tertinggi historis. Perluasan besar ini mencerminkan kebijakan pelonggaran simultan dari bank sentral di negara maju maupun berkembang.
Yang perlu diperhatikan adalah distribusi ekspansi likuiditas ini yang sangat tidak merata. China memegang sekitar 37% dari total, yaitu 47,7 triliun dolar M2, dan memimpin perluasan likuiditas global. Sebaliknya, ekonomi utama seperti Jepang, India, dan Korea menunjukkan tren penurunan M2, menandai multipolarisasi lingkungan keuangan global.
Perubahan Aliran Modal Internasional yang Dipicu oleh Ekspansi Likuiditas yang Dipimpin China
Tingginya tingkat pertumbuhan M2 China bukan hanya fenomena domestik, tetapi juga mempengaruhi pergerakan modal lintas batas. Di tengah beberapa ekonomi seperti Argentina dan Israel menghadapi kontraksi M2, aliran likuiditas dari China mengubah posisi investasi di pasar berkembang.
Analisis para ahli keuangan menunjukkan bahwa ketidakseimbangan pertumbuhan regional ini menghasilkan arus modal yang sangat fluktuatif, yang berpotensi meningkatkan volatilitas pasar internasional. Di sisi lain, ekspansi ini juga mendorong rebalancing aset di kawasan Asia Timur dan meningkatkan minat terhadap aset alternatif termasuk aset kripto.
Korelasi Historis Likuiditas dan Aset Risiko: Skenario 2026
Dalam teori ekonomi makro standar, perluasan M2 global sangat berkorelasi dengan kenaikan aset risiko. Ketika biaya pendanaan menurun dan dana mengalir ke sistem perbankan, investor cenderung beralih ke investasi berisiko tinggi dengan potensi pengembalian tinggi. Pola ini telah terbukti konsisten dalam siklus sebelumnya.
Namun, saat ini korelasi tersebut sementara tidak berfungsi. Dengan suku bunga yang terus dipotong dan pasokan likuiditas yang berlanjut, pasar aset kripto mengalami penurunan sebesar 21%, jauh di bawah puncaknya kuartal sebelumnya. Penyebab utama ketidaksesuaian ini meliputi:
Siklus pengambilan keuntungan: Koreksi dari level tertinggi sebelumnya
Psikologi investor yang berhati-hati: Tekanan jangka pendek lebih dominan daripada faktor makro
Titik Balik 2026: Likuiditas yang Terus Meningkat Mendukung Rebound
Sinyal penting adalah tren jangka panjang dari likuiditas yang tetap menunjukkan kenaikan. Dengan M2 global yang tetap di level tertinggi dan bank sentral utama berada di tengah siklus pelonggaran, kondisi ini menciptakan peluang rebound potensial untuk aset risiko termasuk aset kripto.
Menurut prediksi para ahli, jika ekspansi likuiditas berlanjut, pada 2026 diperkirakan akan terjadi rebound sebesar 20–30% pada aset kripto berdasarkan pola historis. Ketika psikologi pasar berbalik dan investor mulai menilai ulang faktor makro, penurunan saat ini bisa menjadi peluang beli yang baik.
Indikator Likuiditas Penting yang Harus Dipantau oleh Pelaku Pasar
Menuju 2026, indikator berikut akan sangat mempengaruhi arah pasar aset kripto:
Perkembangan M2 global: Menjaga atau memperluas di sekitar 130 triliun dolar akan mendukung lingkungan yang kondusif untuk aset risiko
Dinamika likuiditas regional: Apakah kebijakan China akan berlanjut dan sinkron dengan dukungan fiskal AS, atau akan berbeda
Sentimen investor: Perkembangan regulasi dan penyelesaian tekanan pengambilan keuntungan
Aliran modal: Seberapa jauh peralihan ke aset alternatif berlangsung
Kesimpulan: Titik Keseimbangan antara Lingkungan Makro dan Psikologi Mikro
Dengan likuiditas global yang mencapai rekor tertinggi dan tren kenaikan yang berlanjut menuju 2026, jawaban mengapa pasar aset kripto sedang menurun terletak pada ketidakseimbangan sementara antara psikologi investor jangka pendek dan faktor makro jangka panjang yang mendukung.
Percepatan perluasan M2, terutama yang dipimpin China, secara pasti menciptakan angin dukung bagi aset risiko. Penurunan 21% saat ini kemungkinan hanyalah bagian dari siklus ekspansi likuiditas yang lebih besar dan bersifat struktural.
Penting bagi investor untuk terus memantau indikator likuiditas ini dan menangkap momen perubahan psikologi pasar menuju 2026. Tren secara keseluruhan tetap menunjukkan kondisi yang mendukung aset risiko, dan jika stabilisasi regulasi serta pemulihan sentimen investor terjadi, pasar aset kripto berpotensi mengalami rebound besar.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Perluasan likuiditas global yang pesat mengungkap misteri penurunan pasar aset kripto: Prospek hingga tahun 2026
Mengapa Pasar Aset Kripto Sedang Menurun? Analisis Kesenjangan dengan Likuiditas
Latar belakang makroekonomi tampak kontradiktif. Meskipun pasokan M2 global mendekati rekor tertinggi sebesar 130 triliun dolar dan bank sentral utama secara berurutan menerapkan kebijakan pelonggaran, kapitalisasi pasar aset kripto mengalami penurunan tajam sebesar 21% pada kuartal keempat tahun 2025. Paradoks ini penting dipahami karena menjadi kunci utama dalam memperkirakan prospek aset risiko tahun 2026.
Kondisi likuiditas saat ini menunjukkan bahwa, melalui rencana fiskal AS sebesar 400 miliar dolar dan tiga kali pemotongan suku bunga oleh Federal Reserve, sistem perbankan menerima suntikan dana. Namun, meskipun ada faktor makro ini, psikologi investor tetap berhati-hati, dan ketidakpastian regulasi serta tekanan pengambilan keuntungan terus menekan pasar.
M2 Global: Isyarat Perubahan Struktural dari Rekor Tertinggi
Situasi likuiditas keuangan dunia mengalami perubahan drastis. Data terbaru dari Alphractal menunjukkan bahwa M2 global mendekati 130 triliun dolar dan telah memperbarui rekor tertinggi historis. Perluasan besar ini mencerminkan kebijakan pelonggaran simultan dari bank sentral di negara maju maupun berkembang.
Yang perlu diperhatikan adalah distribusi ekspansi likuiditas ini yang sangat tidak merata. China memegang sekitar 37% dari total, yaitu 47,7 triliun dolar M2, dan memimpin perluasan likuiditas global. Sebaliknya, ekonomi utama seperti Jepang, India, dan Korea menunjukkan tren penurunan M2, menandai multipolarisasi lingkungan keuangan global.
Perubahan Aliran Modal Internasional yang Dipicu oleh Ekspansi Likuiditas yang Dipimpin China
Tingginya tingkat pertumbuhan M2 China bukan hanya fenomena domestik, tetapi juga mempengaruhi pergerakan modal lintas batas. Di tengah beberapa ekonomi seperti Argentina dan Israel menghadapi kontraksi M2, aliran likuiditas dari China mengubah posisi investasi di pasar berkembang.
Analisis para ahli keuangan menunjukkan bahwa ketidakseimbangan pertumbuhan regional ini menghasilkan arus modal yang sangat fluktuatif, yang berpotensi meningkatkan volatilitas pasar internasional. Di sisi lain, ekspansi ini juga mendorong rebalancing aset di kawasan Asia Timur dan meningkatkan minat terhadap aset alternatif termasuk aset kripto.
Korelasi Historis Likuiditas dan Aset Risiko: Skenario 2026
Dalam teori ekonomi makro standar, perluasan M2 global sangat berkorelasi dengan kenaikan aset risiko. Ketika biaya pendanaan menurun dan dana mengalir ke sistem perbankan, investor cenderung beralih ke investasi berisiko tinggi dengan potensi pengembalian tinggi. Pola ini telah terbukti konsisten dalam siklus sebelumnya.
Namun, saat ini korelasi tersebut sementara tidak berfungsi. Dengan suku bunga yang terus dipotong dan pasokan likuiditas yang berlanjut, pasar aset kripto mengalami penurunan sebesar 21%, jauh di bawah puncaknya kuartal sebelumnya. Penyebab utama ketidaksesuaian ini meliputi:
Titik Balik 2026: Likuiditas yang Terus Meningkat Mendukung Rebound
Sinyal penting adalah tren jangka panjang dari likuiditas yang tetap menunjukkan kenaikan. Dengan M2 global yang tetap di level tertinggi dan bank sentral utama berada di tengah siklus pelonggaran, kondisi ini menciptakan peluang rebound potensial untuk aset risiko termasuk aset kripto.
Menurut prediksi para ahli, jika ekspansi likuiditas berlanjut, pada 2026 diperkirakan akan terjadi rebound sebesar 20–30% pada aset kripto berdasarkan pola historis. Ketika psikologi pasar berbalik dan investor mulai menilai ulang faktor makro, penurunan saat ini bisa menjadi peluang beli yang baik.
Indikator Likuiditas Penting yang Harus Dipantau oleh Pelaku Pasar
Menuju 2026, indikator berikut akan sangat mempengaruhi arah pasar aset kripto:
Kesimpulan: Titik Keseimbangan antara Lingkungan Makro dan Psikologi Mikro
Dengan likuiditas global yang mencapai rekor tertinggi dan tren kenaikan yang berlanjut menuju 2026, jawaban mengapa pasar aset kripto sedang menurun terletak pada ketidakseimbangan sementara antara psikologi investor jangka pendek dan faktor makro jangka panjang yang mendukung.
Percepatan perluasan M2, terutama yang dipimpin China, secara pasti menciptakan angin dukung bagi aset risiko. Penurunan 21% saat ini kemungkinan hanyalah bagian dari siklus ekspansi likuiditas yang lebih besar dan bersifat struktural.
Penting bagi investor untuk terus memantau indikator likuiditas ini dan menangkap momen perubahan psikologi pasar menuju 2026. Tren secara keseluruhan tetap menunjukkan kondisi yang mendukung aset risiko, dan jika stabilisasi regulasi serta pemulihan sentimen investor terjadi, pasar aset kripto berpotensi mengalami rebound besar.