Ingin berbagi konsep yang sering diabaikan dalam trading—rasio risiko-imbalan (risk-reward ratio).
Pertama-tama, mari kita jelaskan bahwa banyak orang salah paham antara rasio risiko-imbalan dan persentase kenaikan harga. Rasio risiko-imbalan bukan tentang berapa banyak yang bisa didapatkan, tetapi seberapa besar risiko yang harus ditanggung untuk mendapatkan keuntungan tersebut. Dengan kata lain, ini tentang seberapa berani Anda untuk rugi.
Rumus inti sangat sederhana: Rasio risiko-imbalan = Potensi keuntungan ÷ Potensi risiko Yaitu = (Harga take profit – Harga masuk) ÷ (Harga masuk – Harga stop loss)
Ada tiga poin penting yang harus diingat: 1. Penyebut selalu adalah level stop loss 2. Tidak ada hubungannya dengan leverage (leverage hanya memperbesar hasil, tidak mengubah kerangka) 3. Perhitungan ini menggunakan nilai mutlak, bukan persentase
Coba contoh konkret: Anda membuka posisi di 100, atur stop loss di 90, dan take profit di 120.
Risikonya adalah 100 dikurangi 90 sama dengan 10, dan keuntungannya adalah 120 dikurangi 100 sama dengan 20. Rasio risiko-imbalan = 20 ÷ 10 = 2, yaitu rasio 1:2. Sederhananya—setiap rugi 1, targetnya adalah mendapatkan 2.
Lubang paling umum adalah orang mengatakan kena 2%, lalu menyimpulkan rasio risiko-imbalan 1:2. Ini sama sekali berbeda. Kena 2% hanyalah hasil, sedangkan rasio risiko-imbalan adalah struktur. Jika strukturnya benar, dalam jangka panjang Anda berpeluang benar-benar menghasilkan uang.
Mengapa rasio risiko-imbalan lebih penting daripada tingkat kemenangan? Contoh ini menjelaskannya:
Trader A: tingkat kemenangan hanya 40%, tetapi rasio risiko-imbalan 1:3, tetap menghasilkan uang dalam jangka panjang. Trader B: tingkat kemenangan 70%, tetapi rasio risiko-imbalan hanya 1:0.8, akhirnya tetap merugi.
Sudah lihat kan? Rasio risiko-imbalan menentukan apakah Anda mampu menahan kesalahan beruntun. Ini bukan untuk membuat Anda mendapatkan lebih banyak, tetapi untuk memastikan Anda tetap bertahan saat melakukan kesalahan. Ini sangat penting untuk aset yang volatil seperti Bitcoin dan Ethereum.
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Ingin berbagi konsep yang sering diabaikan dalam trading—rasio risiko-imbalan (risk-reward ratio).
Pertama-tama, mari kita jelaskan bahwa banyak orang salah paham antara rasio risiko-imbalan dan persentase kenaikan harga. Rasio risiko-imbalan bukan tentang berapa banyak yang bisa didapatkan, tetapi seberapa besar risiko yang harus ditanggung untuk mendapatkan keuntungan tersebut. Dengan kata lain, ini tentang seberapa berani Anda untuk rugi.
Rumus inti sangat sederhana:
Rasio risiko-imbalan = Potensi keuntungan ÷ Potensi risiko
Yaitu = (Harga take profit – Harga masuk) ÷ (Harga masuk – Harga stop loss)
Ada tiga poin penting yang harus diingat:
1. Penyebut selalu adalah level stop loss
2. Tidak ada hubungannya dengan leverage (leverage hanya memperbesar hasil, tidak mengubah kerangka)
3. Perhitungan ini menggunakan nilai mutlak, bukan persentase
Coba contoh konkret:
Anda membuka posisi di 100, atur stop loss di 90, dan take profit di 120.
Risikonya adalah 100 dikurangi 90 sama dengan 10, dan keuntungannya adalah 120 dikurangi 100 sama dengan 20.
Rasio risiko-imbalan = 20 ÷ 10 = 2, yaitu rasio 1:2.
Sederhananya—setiap rugi 1, targetnya adalah mendapatkan 2.
Lubang paling umum adalah orang mengatakan kena 2%, lalu menyimpulkan rasio risiko-imbalan 1:2. Ini sama sekali berbeda. Kena 2% hanyalah hasil, sedangkan rasio risiko-imbalan adalah struktur. Jika strukturnya benar, dalam jangka panjang Anda berpeluang benar-benar menghasilkan uang.
Mengapa rasio risiko-imbalan lebih penting daripada tingkat kemenangan? Contoh ini menjelaskannya:
Trader A: tingkat kemenangan hanya 40%, tetapi rasio risiko-imbalan 1:3, tetap menghasilkan uang dalam jangka panjang.
Trader B: tingkat kemenangan 70%, tetapi rasio risiko-imbalan hanya 1:0.8, akhirnya tetap merugi.
Sudah lihat kan? Rasio risiko-imbalan menentukan apakah Anda mampu menahan kesalahan beruntun. Ini bukan untuk membuat Anda mendapatkan lebih banyak, tetapi untuk memastikan Anda tetap bertahan saat melakukan kesalahan. Ini sangat penting untuk aset yang volatil seperti Bitcoin dan Ethereum.