Latest asset allocation data has been released, and the situation is a bit tense.
Menurut survei AAII Desember 2025, investor ritel telah terjebak dalam kondisi yang disebut "investasi penuh"—terdengar profesional, sebenarnya hanya ALL IN. Angka yang mencolok: saham dan dana saham mencapai 70,8%, kas hanya 14,8%, obligasi 14,4%. Dibandingkan dengan rata-rata historis, saham lebih tinggi 8,8 poin persentase, kas lebih sedikit 8 poin persentase.
Apa makna dari alokasi saham 70,8% ini? Dalam hampir 15 tahun terakhir, hanya dua kali lebih tinggi—November 2021 sebesar 71,39% dan November 2025 sebesar 71,2%. Dengan kata lain, saat ini berada di posisi tinggi sekitar 90% secara historis. Yang paling ekstrem adalah proporsi kas, dalam grafik 15 tahun ini adalah yang terendah atau mendekati terendah, investor ritel hampir tidak punya "peluru" lagi.
**Perbedaan besar dalam tahun ini**
Pada bulan April, karena kekhawatiran tarif, alokasi saham sempat jatuh ke 64,10%. Kemudian selama 8 bulan rebound sebesar 6,7 poin persentase kembali ke level saat ini. Pada periode yang sama, indeks S&P 500 naik 24%, Nasdaq naik 33%—ini membentuk umpan balik positif: semakin besar kenaikan, semakin gila investor ritel menambah posisi, dan penambahan posisi ini kembali mendorong pasar naik.
Lebih menarik lagi adalah tren jangka panjang alokasi kas. Dari 20-22% di tahun 2010, terus menurun hingga 14,8% saat ini. Bahkan selama periode suku bunga tinggi Federal Reserve di 2023-2024, hasil dana pasar uang sudah lebih dari 5%, tetapi investor ritel malah secara besar-besaran mengurangi kas—ini menunjukkan kekuatan FOMO (takut ketinggalan) benar-benar mengalahkan "daya tarik pendapatan bunga".
**Gema dari masa lalu**
Kapan biasanya alokasi saham yang sangat tinggi seperti ini muncul? Saat akhir pasar bullish atau puncak gelembung.
Setelah alokasi 71,39% di November 2021, apa yang terjadi? Gelembung SPAC pecah, dan pada 2022 S&P jatuh 19%. Pada 2017, alokasi 72-73% didukung oleh optimisme reformasi pajak, tetapi hasilnya Q4 2018 jatuh 20%. Satu-satunya ekstrem di sisi negatif adalah Maret 2020, saat pandemi menyebabkan pasar jatuh ke 54%, yang benar-benar merupakan peluang bottom.
Situasi saat ini sangat mirip dengan akhir 2021: alokasi saham tinggi + kas rendah + "peluru habis". Bayangkan jika pasar tiba-tiba jatuh 10-20%, investor ritel tidak punya uang untuk membeli saat bottom, yang tersisa hanyalah panic selling—yang bisa memperdalam penurunan tersebut.
**Fenomena aneh dari alokasi obligasi yang rendah**
Ada juga keanehan lain. Hasil obligasi 10 tahun saat ini 4,17%, padahal tahun 2021 baru 1,5%. Secara teori, daya tarik obligasi seharusnya meningkat, dan alokasi obligasi juga harus bertambah. Tapi kenyataannya? Alokasi obligasi malah turun ke 14,4%, di bawah rata-rata 15,9%.
Ini menunjukkan satu hal: kegilaan saham benar-benar mengusir permintaan obligasi. "Portofolio 60/40" klasik (60% saham, 40% obligasi) sudah benar-benar ditinggalkan oleh investor ritel.
Kesimpulan: alokasi aset investor ritel saat ini sudah mendekati batas ekstrem historis, hampir tidak punya dana darurat, dan secara psikologis sepenuhnya dikendalikan oleh FOMO. Situasi seperti ini biasanya tidak akan bertahan lama dalam sejarah.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
14 Suka
Hadiah
14
5
Posting ulang
Bagikan
Komentar
0/400
VitalikFanAccount
· 3jam yang lalu
Sial, ini lagi-lagi memberi sensasi tahun 2021? Kali ini benar-benar akan pecah.
Lihat AsliBalas0
BearMarketBro
· 14jam yang lalu
70.8% alokasi saham... Bukankah ini adalah versi 2021, saat itu kita semua sudah melihat akhirnya. Investor ritel benar-benar tidak bisa belajar, ya
Lihat AsliBalas0
ETHmaxi_NoFilter
· 01-10 08:03
Astaga, perasaan déjà vu tahun 2021 datang... Saat itu saya juga ALL IN, hasilnya seperti yang kamu tahu
Lihat AsliBalas0
BoredApeResistance
· 01-10 07:52
70.8%,saya benar-benar langsung ALL IN nih
Lihat AsliBalas0
SleepyValidator
· 01-10 07:35
Sial, 70.8%... bukankah ini seperti sebelum kecelakaan besar di tahun 2021? Sejarah benar-benar akan terulang kembali
Latest asset allocation data has been released, and the situation is a bit tense.
Menurut survei AAII Desember 2025, investor ritel telah terjebak dalam kondisi yang disebut "investasi penuh"—terdengar profesional, sebenarnya hanya ALL IN. Angka yang mencolok: saham dan dana saham mencapai 70,8%, kas hanya 14,8%, obligasi 14,4%. Dibandingkan dengan rata-rata historis, saham lebih tinggi 8,8 poin persentase, kas lebih sedikit 8 poin persentase.
Apa makna dari alokasi saham 70,8% ini? Dalam hampir 15 tahun terakhir, hanya dua kali lebih tinggi—November 2021 sebesar 71,39% dan November 2025 sebesar 71,2%. Dengan kata lain, saat ini berada di posisi tinggi sekitar 90% secara historis. Yang paling ekstrem adalah proporsi kas, dalam grafik 15 tahun ini adalah yang terendah atau mendekati terendah, investor ritel hampir tidak punya "peluru" lagi.
**Perbedaan besar dalam tahun ini**
Pada bulan April, karena kekhawatiran tarif, alokasi saham sempat jatuh ke 64,10%. Kemudian selama 8 bulan rebound sebesar 6,7 poin persentase kembali ke level saat ini. Pada periode yang sama, indeks S&P 500 naik 24%, Nasdaq naik 33%—ini membentuk umpan balik positif: semakin besar kenaikan, semakin gila investor ritel menambah posisi, dan penambahan posisi ini kembali mendorong pasar naik.
Lebih menarik lagi adalah tren jangka panjang alokasi kas. Dari 20-22% di tahun 2010, terus menurun hingga 14,8% saat ini. Bahkan selama periode suku bunga tinggi Federal Reserve di 2023-2024, hasil dana pasar uang sudah lebih dari 5%, tetapi investor ritel malah secara besar-besaran mengurangi kas—ini menunjukkan kekuatan FOMO (takut ketinggalan) benar-benar mengalahkan "daya tarik pendapatan bunga".
**Gema dari masa lalu**
Kapan biasanya alokasi saham yang sangat tinggi seperti ini muncul? Saat akhir pasar bullish atau puncak gelembung.
Setelah alokasi 71,39% di November 2021, apa yang terjadi? Gelembung SPAC pecah, dan pada 2022 S&P jatuh 19%. Pada 2017, alokasi 72-73% didukung oleh optimisme reformasi pajak, tetapi hasilnya Q4 2018 jatuh 20%. Satu-satunya ekstrem di sisi negatif adalah Maret 2020, saat pandemi menyebabkan pasar jatuh ke 54%, yang benar-benar merupakan peluang bottom.
Situasi saat ini sangat mirip dengan akhir 2021: alokasi saham tinggi + kas rendah + "peluru habis". Bayangkan jika pasar tiba-tiba jatuh 10-20%, investor ritel tidak punya uang untuk membeli saat bottom, yang tersisa hanyalah panic selling—yang bisa memperdalam penurunan tersebut.
**Fenomena aneh dari alokasi obligasi yang rendah**
Ada juga keanehan lain. Hasil obligasi 10 tahun saat ini 4,17%, padahal tahun 2021 baru 1,5%. Secara teori, daya tarik obligasi seharusnya meningkat, dan alokasi obligasi juga harus bertambah. Tapi kenyataannya? Alokasi obligasi malah turun ke 14,4%, di bawah rata-rata 15,9%.
Ini menunjukkan satu hal: kegilaan saham benar-benar mengusir permintaan obligasi. "Portofolio 60/40" klasik (60% saham, 40% obligasi) sudah benar-benar ditinggalkan oleh investor ritel.
Kesimpulan: alokasi aset investor ritel saat ini sudah mendekati batas ekstrem historis, hampir tidak punya dana darurat, dan secara psikologis sepenuhnya dikendalikan oleh FOMO. Situasi seperti ini biasanya tidak akan bertahan lama dalam sejarah.