Amerika Serikat menghadapi masalah defisit perdagangan, yang tampaknya merupakan aliran barang dan jasa yang tidak seimbang, tetapi di era ekonomi digital, kenyataannya jauh lebih kompleks.
Pertama, mari kita lihat data ini sebagai "barang tersembunyi". Setiap hari, informasi pribadi, data operasional perusahaan, data transaksi keuangan yang dihasilkan di seluruh dunia di internet ada di mana-mana, melintasi batas negara secara bebas, tetapi sangat sedikit yang bertanya tentang nilai data ini dan ke mana akhirnya mengalir. Faktanya, keuntungan dari data dalam jumlah besar ini sebagian besar diambil oleh sedikit raksasa teknologi, yang tidak tercatat dalam neraca perdagangan dan membuat negara-negara lain merasa dirugikan secara diam-diam.
Selanjutnya, mari kita tinjau sistem pembayaran. Perdagangan lintas batas saat ini tidak lepas dari penyelesaian dalam dolar AS, yang memberi Amerika Serikat kekuasaan keuangan yang besar, tetapi sekaligus juga membuat negara lain menghadapi risiko nilai tukar dan tekanan sanksi. Setiap negara sedang memikirkan satu hal: bagaimana bisa melepaskan ketergantungan ini dan membangun mekanisme pertukaran nilai yang lebih netral dan lebih dapat dikendalikan?
Yang paling menarik adalah keamanan rantai pasokan. Setiap negara berusaha keras agar rantai pasokan barang penting "lepas risiko", dan logika yang sama juga berlaku di bidang digital. Penyimpanan data, transmisi informasi, infrastruktur pemrosesan yang mandiri dan dapat dikendalikan, anti sensor, dan perlindungan terhadap kegagalan titik tunggal—semua ini bukan lagi masalah teknologi, melainkan peristiwa besar yang menyangkut strategi nasional.
Dari sudut pandang ini, munculnya protokol penyimpanan terdistribusi seperti Walrus memiliki makna baru—bukan hanya inovasi teknologi, tetapi juga mendefinisikan ulang aliran nilai dan kedaulatan keuangan di era digital.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Amerika Serikat menghadapi masalah defisit perdagangan, yang tampaknya merupakan aliran barang dan jasa yang tidak seimbang, tetapi di era ekonomi digital, kenyataannya jauh lebih kompleks.
Pertama, mari kita lihat data ini sebagai "barang tersembunyi". Setiap hari, informasi pribadi, data operasional perusahaan, data transaksi keuangan yang dihasilkan di seluruh dunia di internet ada di mana-mana, melintasi batas negara secara bebas, tetapi sangat sedikit yang bertanya tentang nilai data ini dan ke mana akhirnya mengalir. Faktanya, keuntungan dari data dalam jumlah besar ini sebagian besar diambil oleh sedikit raksasa teknologi, yang tidak tercatat dalam neraca perdagangan dan membuat negara-negara lain merasa dirugikan secara diam-diam.
Selanjutnya, mari kita tinjau sistem pembayaran. Perdagangan lintas batas saat ini tidak lepas dari penyelesaian dalam dolar AS, yang memberi Amerika Serikat kekuasaan keuangan yang besar, tetapi sekaligus juga membuat negara lain menghadapi risiko nilai tukar dan tekanan sanksi. Setiap negara sedang memikirkan satu hal: bagaimana bisa melepaskan ketergantungan ini dan membangun mekanisme pertukaran nilai yang lebih netral dan lebih dapat dikendalikan?
Yang paling menarik adalah keamanan rantai pasokan. Setiap negara berusaha keras agar rantai pasokan barang penting "lepas risiko", dan logika yang sama juga berlaku di bidang digital. Penyimpanan data, transmisi informasi, infrastruktur pemrosesan yang mandiri dan dapat dikendalikan, anti sensor, dan perlindungan terhadap kegagalan titik tunggal—semua ini bukan lagi masalah teknologi, melainkan peristiwa besar yang menyangkut strategi nasional.
Dari sudut pandang ini, munculnya protokol penyimpanan terdistribusi seperti Walrus memiliki makna baru—bukan hanya inovasi teknologi, tetapi juga mendefinisikan ulang aliran nilai dan kedaulatan keuangan di era digital.