Analisis kuantitatif lebih disukai daripada analisis teknikal
Dalam trading crypto, perdebatan antara analisis kuantitatif dan analisis teknikal tetap ada. Namun, data menunjukkan tren yang jelas: model matematika dan statistik sering kali mengungguli pembacaan grafik sederhana.
Mengapa? Analisis kuantitatif didasarkan pada metrik konkret—volume perdagangan, kecepatan transaksi, distribusi dompet. Ini menghilangkan subjektivitas. Sedangkan analisis teknikal sangat bergantung pada interpretasi pribadi terhadap level support dan resistance.
Di pasar yang volatil seperti Bitcoin atau Ethereum, pendekatan berbasis data menghasilkan hasil yang lebih dapat diprediksi. Ini terutama berlaku selama siklus pasar ekstrem.
Tentu saja, menggabungkan kedua pendekatan dapat memberikan gambaran yang lebih kokoh. Tetapi jika Anda harus memilih satu metode, angka biasanya berbicara lebih keras daripada lilin.
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
14 Suka
Hadiah
14
5
Posting ulang
Bagikan
Komentar
0/400
NftBankruptcyClub
· 3jam yang lalu
Data berbicara, grafik hanyalah ilusi... Saya sudah lama percaya itu
Lihat AsliBalas0
LiquidationAlert
· 01-11 06:59
Data akan berbicara, tetapi saya tetap suka melihat grafik lilin haha
Lihat AsliBalas0
RugPullSurvivor
· 01-11 06:53
Matematika tidak akan menipu, grafik candlestick yang akan melakukannya, itulah sebabnya saya masih hidup
Lihat AsliBalas0
rug_connoisseur
· 01-11 06:48
Data memang tidak akan menipu, tetapi saya telah melihat terlalu banyak cerita tentang model kuantitatif yang langsung meledak di depan angsa hitam...
Lihat AsliBalas0
DEXRobinHood
· 01-11 06:47
Data berbicara memang keras, membaca grafik seperti membaca pikiran terlalu mistis ya
Analisis kuantitatif lebih disukai daripada analisis teknikal
Dalam trading crypto, perdebatan antara analisis kuantitatif dan analisis teknikal tetap ada. Namun, data menunjukkan tren yang jelas: model matematika dan statistik sering kali mengungguli pembacaan grafik sederhana.
Mengapa? Analisis kuantitatif didasarkan pada metrik konkret—volume perdagangan, kecepatan transaksi, distribusi dompet. Ini menghilangkan subjektivitas. Sedangkan analisis teknikal sangat bergantung pada interpretasi pribadi terhadap level support dan resistance.
Di pasar yang volatil seperti Bitcoin atau Ethereum, pendekatan berbasis data menghasilkan hasil yang lebih dapat diprediksi. Ini terutama berlaku selama siklus pasar ekstrem.
Tentu saja, menggabungkan kedua pendekatan dapat memberikan gambaran yang lebih kokoh. Tetapi jika Anda harus memilih satu metode, angka biasanya berbicara lebih keras daripada lilin.