Jejak Strategy di tahun 2025 membangkitkan kembali perdebatan lama antara skeptis dan penggemar Bitcoin. Ekonom Peter Schiff tidak ragu mengkritik dengan menyoroti perusahaan tersebut, menunjukkan bahwa konsentrasi berlebihan pada Bitcoin membuat para pemegang saham rentan terhadap volatilitas pasar. Penurunan sebesar 47,5% pada saham perusahaan menjadi bahan bakar sempurna untuk argumen kritikus jangka panjang terhadap kripto.
Tesis Peter Schiff: Konsentrasi Berlebihan Menimbulkan Risiko
Bagi Peter Schiff, masalahnya bukan hanya kinerja buruk di tahun 2025, tetapi filosofi investasi yang diadopsi oleh Strategy di bawah kepemimpinan Michael Saylor. Ketergantungan strategis pada Bitcoin mengubah perusahaan menjadi proxy dari mata uang digital, memperbesar kerugian saat pasar kripto menghadapi periode koreksi. Sementara S&P 500 menunjukkan hasil yang sangat berbeda, Strategy tetap terikat pada fluktuasi BTC.
Schiff mengangkat pertanyaan yang mengganggu: haruskah perusahaan perangkat lunak tradisional memiliki tesis investasi yang begitu terkait dengan aset spekulatif? Jawabannya jelas: tidak. Perspektifnya menyarankan bahwa Michael Saylor mengubah Strategy menjadi kendaraan eksposur terhadap Bitcoin, menyimpang dari proposisi awal perusahaan.
Angka Tidak Berbohong, Tapi Menceritakan Cerita Berbeda
Meskipun optimisme perusahaan, angka menunjukkan nuansa tertentu. Strategy menginvestasikan US$ 108,8 juta dalam pembelian Bitcoin terbaru, berusaha memperkuat posisi. Namun, saat Schiff menganalisis keuntungan 16% yang terkumpul dalam lima tahun, hasilnya berubah menjadi pengembalian tahunan yang biasa-biasa saja. Bandingkan ini dengan investasi tradisional berbasis pendapatan tetap atau diversifikasi, dan narasinya berubah secara signifikan.
Pertanyaan dari Peter Schiff menyentuh poin sensitif: mengorbankan stabilitas dan diversifikasi demi alokasi Bitcoin mungkin bukan formula terbaik untuk melindungi modal pemegang saham selama badai pasar.
Pelajaran dari Sebuah Kontroversi
Kasus Strategy menggambarkan risiko nyata dari konsentrasi risiko pada satu aset, terutama di periode yang volatil. Baik Anda kritikus maupun pendukung Bitcoin, fakta tahun 2025 menunjukkan bahwa tesis Michael Saylor telah diuji secara keras. Peter Schiff tetap skeptis, dan pasar terus mengamati apakah strategi ini akan pulih atau mengonfirmasi prediksi negatif dari para pengkritiknya.
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Pertarungan Antara Peter Schiff dan Strategi Bitcoin: Kapan Taruhan pada BTC Berbalik Arah
Jejak Strategy di tahun 2025 membangkitkan kembali perdebatan lama antara skeptis dan penggemar Bitcoin. Ekonom Peter Schiff tidak ragu mengkritik dengan menyoroti perusahaan tersebut, menunjukkan bahwa konsentrasi berlebihan pada Bitcoin membuat para pemegang saham rentan terhadap volatilitas pasar. Penurunan sebesar 47,5% pada saham perusahaan menjadi bahan bakar sempurna untuk argumen kritikus jangka panjang terhadap kripto.
Tesis Peter Schiff: Konsentrasi Berlebihan Menimbulkan Risiko
Bagi Peter Schiff, masalahnya bukan hanya kinerja buruk di tahun 2025, tetapi filosofi investasi yang diadopsi oleh Strategy di bawah kepemimpinan Michael Saylor. Ketergantungan strategis pada Bitcoin mengubah perusahaan menjadi proxy dari mata uang digital, memperbesar kerugian saat pasar kripto menghadapi periode koreksi. Sementara S&P 500 menunjukkan hasil yang sangat berbeda, Strategy tetap terikat pada fluktuasi BTC.
Schiff mengangkat pertanyaan yang mengganggu: haruskah perusahaan perangkat lunak tradisional memiliki tesis investasi yang begitu terkait dengan aset spekulatif? Jawabannya jelas: tidak. Perspektifnya menyarankan bahwa Michael Saylor mengubah Strategy menjadi kendaraan eksposur terhadap Bitcoin, menyimpang dari proposisi awal perusahaan.
Angka Tidak Berbohong, Tapi Menceritakan Cerita Berbeda
Meskipun optimisme perusahaan, angka menunjukkan nuansa tertentu. Strategy menginvestasikan US$ 108,8 juta dalam pembelian Bitcoin terbaru, berusaha memperkuat posisi. Namun, saat Schiff menganalisis keuntungan 16% yang terkumpul dalam lima tahun, hasilnya berubah menjadi pengembalian tahunan yang biasa-biasa saja. Bandingkan ini dengan investasi tradisional berbasis pendapatan tetap atau diversifikasi, dan narasinya berubah secara signifikan.
Pertanyaan dari Peter Schiff menyentuh poin sensitif: mengorbankan stabilitas dan diversifikasi demi alokasi Bitcoin mungkin bukan formula terbaik untuk melindungi modal pemegang saham selama badai pasar.
Pelajaran dari Sebuah Kontroversi
Kasus Strategy menggambarkan risiko nyata dari konsentrasi risiko pada satu aset, terutama di periode yang volatil. Baik Anda kritikus maupun pendukung Bitcoin, fakta tahun 2025 menunjukkan bahwa tesis Michael Saylor telah diuji secara keras. Peter Schiff tetap skeptis, dan pasar terus mengamati apakah strategi ini akan pulih atau mengonfirmasi prediksi negatif dari para pengkritiknya.