Hantu yang menggabungkan stagnasi ekonomi dan inflasi yang sedang berputar di atas ekonomi makro global, sementara pasar cryptocurrency sebagai detektor risiko telah terlebih dahulu membunyikan alarm. Stagflasi, istilah ekonomi yang berasal dari krisis minyak tahun 70-an abad ke-20, kembali menjadi topik hangat di kalangan investor seiring dengan sinyal kompleks melambatnya pertumbuhan GDP AS, pasar tenaga kerja yang lemah, dan inflasi yang membandel.
Bagi kita yang berada di industri kripto, stagflasi bukan hanya konsep makroekonomi, tetapi juga variabel kunci yang dapat langsung mempengaruhi arah harga aset digital.
01 Esensi Stagflasi: Ketika Pertumbuhan Ekonomi Terhenti Bertemu Inflasi
Stagflasi adalah konsep ekonomi yang merujuk pada kondisi di mana stagnasi ekonomi, tingkat pengangguran tinggi, dan inflasi tinggi terjadi secara bersamaan.
Istilah ini pertama kali diajukan oleh tokoh politik Inggris, McLough, pada tahun 1965, tetapi baru benar-benar menarik perhatian global selama krisis minyak tahun 1973 hingga 1975.
Dalam teori ekonomi tradisional, inflasi dan resesi biasanya dianggap tidak bisa terjadi bersamaan, namun fenomena stagflasi membantah anggapan tersebut.
Memahami penyebab stagflasi penting dilakukan dengan menyadari bahwa hal ini bisa dipicu oleh dua faktor utama: pertama, kapasitas ekonomi yang berkurang akibat gangguan pasokan negatif, seperti kenaikan biaya produksi akibat krisis minyak; kedua, kebijakan ekonomi yang tidak tepat, misalnya bank sentral yang membiarkan pertumbuhan suplai uang berlebihan atau pemerintah yang terlalu mengatur pasar.
Para ekonom menganalisis stagflasi tahun 1970-an dan biasanya menyalahkan kombinasi kenaikan harga minyak dan kebijakan moneter yang terlalu longgar dari bank sentral, yang menciptakan spiral harga/gaji yang berbahaya.
02 Peringatan Sejarah: Stagflasi 1970-an dan Simulasi Pasar 2025
Melihat ke belakang, kasus stagflasi paling terkenal terjadi di tahun 1970-an. Saat itu, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) memberlakukan embargo minyak terhadap beberapa negara, menyebabkan harga minyak melonjak lebih dari 300%, memicu krisis ekonomi global.
Pada saat yang sama, AS meninggalkan standar emas, yang memperburuk tekanan inflasi. Pertumbuhan ekonomi melambat, tingkat pengangguran tinggi, dan inflasi yang terus-menerus muncul bersamaan, menciptakan situasi ekonomi yang sebelumnya dianggap tidak mungkin oleh para ekonom.
Krisis tarif 2025 telah memberi kita gambaran kecil tentang dampak stagflasi terhadap pasar kripto. Laporan analisis Gate menunjukkan bahwa kebijakan tarif pemerintahan Trump telah menjadi salah satu narasi makro terpenting di pasar kripto.
Terutama pada Oktober 2025, pasar mengalami crash mendadak karena kekhawatiran akan kemungkinan kenaikan tarif impor dari China sebesar 100%, dengan Bitcoin mengalami penurunan harian lebih dari 16%, dan bursa utama melaporkan forced liquidation hingga 190 miliar dolar AS dalam satu hari.
03 Mekanisme Pasar: Bagaimana Risiko Stagflasi Mempengaruhi Penetapan Harga Aset Kripto
Dampak stagflasi terhadap pasar cryptocurrency terutama melalui beberapa jalur utama. Pertama, dalam lingkungan stagflasi, bank sentral sering terjebak dalam dilema: jika melakukan kebijakan pengetatan untuk menahan inflasi, ekonomi bisa semakin melemah; jika melakukan kebijakan pelonggaran untuk merangsang ekonomi, inflasi bisa semakin memburuk.
Dilema kebijakan ini langsung mempengaruhi likuiditas pasar dan preferensi risiko, dan sebagai aset berisiko tinggi, kripto sangat sensitif terhadap perubahan likuiditas.
Penelitian Gate menunjukkan bahwa faktor-faktor seperti kebijakan tarif yang dapat memicu stagflasi akan mempengaruhi Bitcoin melalui lima saluran utama: pertumbuhan, inflasi, likuiditas, sentimen risiko, dan volatilitas. Skenario yang paling dikhawatirkan pasar adalah risiko “stagflasi” — pertumbuhan yang lemah membatasi laba perusahaan, sementara inflasi tinggi membatasi kemampuan bank sentral untuk merangsang ekonomi melalui kebijakan moneter longgar.
Dalam konteks makro ini, valuasi aset risiko biasanya akan mengalami tekanan besar. Data ekonomi April 2025 menunjukkan gambaran awal risiko ini: GDP AS secara tak terduga turun 0,3%, sementara indikator inflasi tetap tinggi, menyebabkan Bitcoin sempat turun di bawah 94.000 dolar AS.
04 Analisis Token: Performa Berbeda Aset Kripto dalam Lingkungan Stagflasi
Dalam lingkungan stagflasi potensial, berbagai aset kripto mungkin menunjukkan performa yang berbeda. Bitcoin sering disebut sebagai “emas digital”, karena kelangkaan dan desentralisasi-nya, beberapa analisis menganggapnya sebagai alat lindung nilai terhadap inflasi.
Data historis menunjukkan bahwa setelah tercapainya kesepakatan sementara tarif antara AS dan China pada Mei 2025, Bitcoin sempat melonjak kembali di atas 100.000 dolar AS, menunjukkan ketahanan yang kuat saat pasar mengalami penjualan berlebihan dan sinyal kebijakan yang melonggar.
Ethereum, sebagai koin terbesar kedua, memiliki korelasi tinggi dengan Bitcoin, tetapi biasanya menunjukkan volatilitas yang lebih tinggi (beta lebih tinggi).
Dalam masa kekhawatiran stagflasi meningkat, karakteristik ini bisa berarti fluktuasi harga yang lebih besar. Fitur unik Ethereum seperti kontrak pintar dan ekosistem aplikasinya membuat narasi nilai jangka panjangnya berbeda dari Bitcoin, tetapi dalam jangka pendek, kedua aset ini cenderung bergerak serupa terhadap guncangan makro.
Altcoin lain mungkin menghadapi tantangan lebih besar dalam lingkungan stagflasi. Aset ini biasanya memiliki beta yang lebih tinggi, dan saat pasar turun, penurunannya bisa jauh melebihi Bitcoin dan Ethereum.
Investor harus berhati-hati terhadap aset ini, terutama saat ketidakpastian pasar meningkat.
05 Strategi Investasi: Bagaimana Menyesuaikan Alokasi Aset Kripto Saat Stagflasi
Menghadapi risiko stagflasi yang potensial, investor perlu menyesuaikan strategi investasi agar sesuai dengan perubahan kondisi pasar. Memperhatikan sinyal kebijakan makro menjadi sangat penting. Laporan Gate menekankan pentingnya memantau pengumuman dari Kantor Perwakilan Perdagangan AS, interaksi diplomatik tingkat tinggi antara China, AS, dan Eropa, serta dinamika industri utama.
Arah kebijakan ini sering kali mendahului reaksi pasar dan memberi petunjuk dalam memperkirakan risiko.
Strategi manajemen risiko perlu dievaluasi kembali. Sebelum momen pengambilan keputusan kebijakan besar, mengurangi leverage secara moderat dan meningkatkan buffer margin adalah langkah praktis untuk menghindari kejadian seperti gelombang margin call Oktober 2025.
Investor harus memahami logika pasar di berbagai tahap: pada awal ketakutan stagflasi yang memicu “penghindaran risiko”, uang tunai atau obligasi jangka pendek mungkin menjadi tempat berlindung yang lebih baik; sementara saat pasar mengalami penjualan berlebihan dan sinyal kebijakan mulai melonggar, Bitcoin biasanya menunjukkan rebound yang kuat.
Diversifikasi portofolio menjadi strategi perlindungan utama. Selain menyesuaikan proporsi kepemilikan Bitcoin dan Ethereum sesuai toleransi risiko, investor juga dapat mempertimbangkan mengalokasikan sebagian dana ke aset kripto yang korelasinya rendah terhadap siklus ekonomi makro, atau mengeksplorasi strategi pendapatan dari stablecoin di bidang DeFi, untuk meningkatkan ketahanan portofolio.
Pandangan Masa Depan
Per 13 Januari 2026, di platform Gate, harga Bitcoin telah pulih dari titik terendah November 2025, diperdagangkan di kisaran 90.000 hingga 95.000 dolar AS. Ethereum juga berfluktuasi di atas level support utama, menunjukkan sensitivitas tinggi pasar terhadap sinyal makroekonomi.
Seperti yang terlihat dari krisis tarif 2025, hubungan antara kebijakan perdagangan global dan pasar kripto semakin erat.
Pasar cryptocurrency sedang bertransformasi dari eksperimen pinggiran menjadi indikator makroekonomi global, dan risiko stagflasi yang menggantung di atas ekonomi dunia telah menjadi variabel yang tidak bisa diabaikan dalam model penetapan harga aset digital.
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Krisis stagflasi kembali? Analisis mendalam tentang dampak dan peluang stagflasi terhadap pasar cryptocurrency tahun 2026
Hantu yang menggabungkan stagnasi ekonomi dan inflasi yang sedang berputar di atas ekonomi makro global, sementara pasar cryptocurrency sebagai detektor risiko telah terlebih dahulu membunyikan alarm. Stagflasi, istilah ekonomi yang berasal dari krisis minyak tahun 70-an abad ke-20, kembali menjadi topik hangat di kalangan investor seiring dengan sinyal kompleks melambatnya pertumbuhan GDP AS, pasar tenaga kerja yang lemah, dan inflasi yang membandel.
Bagi kita yang berada di industri kripto, stagflasi bukan hanya konsep makroekonomi, tetapi juga variabel kunci yang dapat langsung mempengaruhi arah harga aset digital.
01 Esensi Stagflasi: Ketika Pertumbuhan Ekonomi Terhenti Bertemu Inflasi
Stagflasi adalah konsep ekonomi yang merujuk pada kondisi di mana stagnasi ekonomi, tingkat pengangguran tinggi, dan inflasi tinggi terjadi secara bersamaan.
Istilah ini pertama kali diajukan oleh tokoh politik Inggris, McLough, pada tahun 1965, tetapi baru benar-benar menarik perhatian global selama krisis minyak tahun 1973 hingga 1975.
Dalam teori ekonomi tradisional, inflasi dan resesi biasanya dianggap tidak bisa terjadi bersamaan, namun fenomena stagflasi membantah anggapan tersebut.
Memahami penyebab stagflasi penting dilakukan dengan menyadari bahwa hal ini bisa dipicu oleh dua faktor utama: pertama, kapasitas ekonomi yang berkurang akibat gangguan pasokan negatif, seperti kenaikan biaya produksi akibat krisis minyak; kedua, kebijakan ekonomi yang tidak tepat, misalnya bank sentral yang membiarkan pertumbuhan suplai uang berlebihan atau pemerintah yang terlalu mengatur pasar.
Para ekonom menganalisis stagflasi tahun 1970-an dan biasanya menyalahkan kombinasi kenaikan harga minyak dan kebijakan moneter yang terlalu longgar dari bank sentral, yang menciptakan spiral harga/gaji yang berbahaya.
02 Peringatan Sejarah: Stagflasi 1970-an dan Simulasi Pasar 2025
Melihat ke belakang, kasus stagflasi paling terkenal terjadi di tahun 1970-an. Saat itu, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) memberlakukan embargo minyak terhadap beberapa negara, menyebabkan harga minyak melonjak lebih dari 300%, memicu krisis ekonomi global.
Pada saat yang sama, AS meninggalkan standar emas, yang memperburuk tekanan inflasi. Pertumbuhan ekonomi melambat, tingkat pengangguran tinggi, dan inflasi yang terus-menerus muncul bersamaan, menciptakan situasi ekonomi yang sebelumnya dianggap tidak mungkin oleh para ekonom.
Krisis tarif 2025 telah memberi kita gambaran kecil tentang dampak stagflasi terhadap pasar kripto. Laporan analisis Gate menunjukkan bahwa kebijakan tarif pemerintahan Trump telah menjadi salah satu narasi makro terpenting di pasar kripto.
Terutama pada Oktober 2025, pasar mengalami crash mendadak karena kekhawatiran akan kemungkinan kenaikan tarif impor dari China sebesar 100%, dengan Bitcoin mengalami penurunan harian lebih dari 16%, dan bursa utama melaporkan forced liquidation hingga 190 miliar dolar AS dalam satu hari.
03 Mekanisme Pasar: Bagaimana Risiko Stagflasi Mempengaruhi Penetapan Harga Aset Kripto
Dampak stagflasi terhadap pasar cryptocurrency terutama melalui beberapa jalur utama. Pertama, dalam lingkungan stagflasi, bank sentral sering terjebak dalam dilema: jika melakukan kebijakan pengetatan untuk menahan inflasi, ekonomi bisa semakin melemah; jika melakukan kebijakan pelonggaran untuk merangsang ekonomi, inflasi bisa semakin memburuk.
Dilema kebijakan ini langsung mempengaruhi likuiditas pasar dan preferensi risiko, dan sebagai aset berisiko tinggi, kripto sangat sensitif terhadap perubahan likuiditas.
Penelitian Gate menunjukkan bahwa faktor-faktor seperti kebijakan tarif yang dapat memicu stagflasi akan mempengaruhi Bitcoin melalui lima saluran utama: pertumbuhan, inflasi, likuiditas, sentimen risiko, dan volatilitas. Skenario yang paling dikhawatirkan pasar adalah risiko “stagflasi” — pertumbuhan yang lemah membatasi laba perusahaan, sementara inflasi tinggi membatasi kemampuan bank sentral untuk merangsang ekonomi melalui kebijakan moneter longgar.
Dalam konteks makro ini, valuasi aset risiko biasanya akan mengalami tekanan besar. Data ekonomi April 2025 menunjukkan gambaran awal risiko ini: GDP AS secara tak terduga turun 0,3%, sementara indikator inflasi tetap tinggi, menyebabkan Bitcoin sempat turun di bawah 94.000 dolar AS.
04 Analisis Token: Performa Berbeda Aset Kripto dalam Lingkungan Stagflasi
Dalam lingkungan stagflasi potensial, berbagai aset kripto mungkin menunjukkan performa yang berbeda. Bitcoin sering disebut sebagai “emas digital”, karena kelangkaan dan desentralisasi-nya, beberapa analisis menganggapnya sebagai alat lindung nilai terhadap inflasi.
Data historis menunjukkan bahwa setelah tercapainya kesepakatan sementara tarif antara AS dan China pada Mei 2025, Bitcoin sempat melonjak kembali di atas 100.000 dolar AS, menunjukkan ketahanan yang kuat saat pasar mengalami penjualan berlebihan dan sinyal kebijakan yang melonggar.
Ethereum, sebagai koin terbesar kedua, memiliki korelasi tinggi dengan Bitcoin, tetapi biasanya menunjukkan volatilitas yang lebih tinggi (beta lebih tinggi).
Dalam masa kekhawatiran stagflasi meningkat, karakteristik ini bisa berarti fluktuasi harga yang lebih besar. Fitur unik Ethereum seperti kontrak pintar dan ekosistem aplikasinya membuat narasi nilai jangka panjangnya berbeda dari Bitcoin, tetapi dalam jangka pendek, kedua aset ini cenderung bergerak serupa terhadap guncangan makro.
Altcoin lain mungkin menghadapi tantangan lebih besar dalam lingkungan stagflasi. Aset ini biasanya memiliki beta yang lebih tinggi, dan saat pasar turun, penurunannya bisa jauh melebihi Bitcoin dan Ethereum.
Investor harus berhati-hati terhadap aset ini, terutama saat ketidakpastian pasar meningkat.
05 Strategi Investasi: Bagaimana Menyesuaikan Alokasi Aset Kripto Saat Stagflasi
Menghadapi risiko stagflasi yang potensial, investor perlu menyesuaikan strategi investasi agar sesuai dengan perubahan kondisi pasar. Memperhatikan sinyal kebijakan makro menjadi sangat penting. Laporan Gate menekankan pentingnya memantau pengumuman dari Kantor Perwakilan Perdagangan AS, interaksi diplomatik tingkat tinggi antara China, AS, dan Eropa, serta dinamika industri utama.
Arah kebijakan ini sering kali mendahului reaksi pasar dan memberi petunjuk dalam memperkirakan risiko.
Strategi manajemen risiko perlu dievaluasi kembali. Sebelum momen pengambilan keputusan kebijakan besar, mengurangi leverage secara moderat dan meningkatkan buffer margin adalah langkah praktis untuk menghindari kejadian seperti gelombang margin call Oktober 2025.
Investor harus memahami logika pasar di berbagai tahap: pada awal ketakutan stagflasi yang memicu “penghindaran risiko”, uang tunai atau obligasi jangka pendek mungkin menjadi tempat berlindung yang lebih baik; sementara saat pasar mengalami penjualan berlebihan dan sinyal kebijakan mulai melonggar, Bitcoin biasanya menunjukkan rebound yang kuat.
Diversifikasi portofolio menjadi strategi perlindungan utama. Selain menyesuaikan proporsi kepemilikan Bitcoin dan Ethereum sesuai toleransi risiko, investor juga dapat mempertimbangkan mengalokasikan sebagian dana ke aset kripto yang korelasinya rendah terhadap siklus ekonomi makro, atau mengeksplorasi strategi pendapatan dari stablecoin di bidang DeFi, untuk meningkatkan ketahanan portofolio.
Pandangan Masa Depan
Per 13 Januari 2026, di platform Gate, harga Bitcoin telah pulih dari titik terendah November 2025, diperdagangkan di kisaran 90.000 hingga 95.000 dolar AS. Ethereum juga berfluktuasi di atas level support utama, menunjukkan sensitivitas tinggi pasar terhadap sinyal makroekonomi.
Seperti yang terlihat dari krisis tarif 2025, hubungan antara kebijakan perdagangan global dan pasar kripto semakin erat.
Pasar cryptocurrency sedang bertransformasi dari eksperimen pinggiran menjadi indikator makroekonomi global, dan risiko stagflasi yang menggantung di atas ekonomi dunia telah menjadi variabel yang tidak bisa diabaikan dalam model penetapan harga aset digital.