Ada satu pertanyaan yang terus menggelitik pikiran: sebenarnya apa nilai dari uang?
Menurut pemahaman Elon Musk, "uang" secara sederhana adalah ukuran dari tenaga kerja. Apa arti memiliki uang? Itu berarti kamu bisa mengarahkan tenaga kerja orang lain untuk bekerja untukmu. Dari sudut pandang ini, uang sendiri tidak memiliki nilai mutlak, melainkan hanya sebagai bukti hak untuk melakukan pertukaran.
Namun, ada satu masalah dengan logika ini—bagaimana jika kecerdasan buatan dan teknologi robot benar-benar cukup kuat untuk memenuhi kebutuhan seluruh manusia? Maka semuanya akan berubah.
Bayangkan skenario berikut: produktivitas tak terbatas, bahan pokok melimpah hingga berlebihan, tenaga kerja menjadi komoditas dengan pasokan tak terbatas. Dalam kondisi ini, apakah uang dalam arti tradisional masih diperlukan?
Untuk membuktikan gagasan ini, Elon Musk bahkan mengutip pandangan dunia dari novel ilmiah karya Ian Banks—dalam dunia fiksi yang sangat maju itu, kelangkaan telah hilang, dan sistem ekonomi pun runtuh.
Ini bukan sekadar fantasi utopis. Ketika efisiensi produksi mencapai batas maksimal, dan manusia tidak lagi membutuhkan pertukaran dan distribusi, nilai uang akan runtuh. Ini mungkin menjadi pertanyaan utama dalam evolusi peradaban manusia setelah era Web3.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
15 Suka
Hadiah
15
5
Posting ulang
Bagikan
Komentar
0/400
MentalWealthHarvester
· 11jam yang lalu
Uang adalah kekuasaan, tanpa uang kamu tidak bisa mengendalikan apa pun... Jika benar-benar ada AI yang mengerjakan semua hal, maka kita harus mendefinisikan ulang apa arti memiliki uang, kan?
Lihat AsliBalas0
DegenTherapist
· 11jam yang lalu
Aduh, Musk lagi mempromosikan era pasca kelangkaan lagi, tapi saya rasa dia mengabaikan satu poin—kekuasaan selalu lebih berharga daripada uang.
Bahkan jika bahan melimpah, akankah hak suara, hak pengambilan keputusan, dan hal-hal semacam itu bisa diduplikasi tanpa batas, atau tidak.
Lihat AsliBalas0
ProtocolRebel
· 11jam yang lalu
Kerentanan logika ini cukup besar, robot sekuat apapun tetap dikendalikan manusia, hubungan kekuasaan akan selalu ada, uang hanya berganti nama untuk terus memanen keuntungan.
Lihat AsliBalas0
SchrodingerProfit
· 11jam yang lalu
Aduh, ide gila ini... jika benar-benar bisa diproduksi tanpa batas, siapa yang peduli uang lagi
Lihat AsliBalas0
SignatureAnxiety
· 11jam yang lalu
Logika ini terdengar menyenangkan, tetapi rasanya masih terlalu idealis, sifat manusia itu sendiri tidak akan pernah bisa diubah, kan?
Ada satu pertanyaan yang terus menggelitik pikiran: sebenarnya apa nilai dari uang?
Menurut pemahaman Elon Musk, "uang" secara sederhana adalah ukuran dari tenaga kerja. Apa arti memiliki uang? Itu berarti kamu bisa mengarahkan tenaga kerja orang lain untuk bekerja untukmu. Dari sudut pandang ini, uang sendiri tidak memiliki nilai mutlak, melainkan hanya sebagai bukti hak untuk melakukan pertukaran.
Namun, ada satu masalah dengan logika ini—bagaimana jika kecerdasan buatan dan teknologi robot benar-benar cukup kuat untuk memenuhi kebutuhan seluruh manusia? Maka semuanya akan berubah.
Bayangkan skenario berikut: produktivitas tak terbatas, bahan pokok melimpah hingga berlebihan, tenaga kerja menjadi komoditas dengan pasokan tak terbatas. Dalam kondisi ini, apakah uang dalam arti tradisional masih diperlukan?
Untuk membuktikan gagasan ini, Elon Musk bahkan mengutip pandangan dunia dari novel ilmiah karya Ian Banks—dalam dunia fiksi yang sangat maju itu, kelangkaan telah hilang, dan sistem ekonomi pun runtuh.
Ini bukan sekadar fantasi utopis. Ketika efisiensi produksi mencapai batas maksimal, dan manusia tidak lagi membutuhkan pertukaran dan distribusi, nilai uang akan runtuh. Ini mungkin menjadi pertanyaan utama dalam evolusi peradaban manusia setelah era Web3.